logo jurnalistika

Inilah Alasan Mahasiswa Unpam Menolak Aksi: Kami Belajar Dari Pengalaman

  • Firman Sy

    22 Okt 2021, 15:55 WIB

    Bagikan:

Photo/ Puluhan Mahasiswa Unpam ditahan Polisi setelah mengikuti aksi demo UU Ciptaker (08/10/2020)

Jurnalistika.id Luka bekas dipukul benda tumpul di bagian kepala Jojo masih belum kering, perban putih menempel menutupi luka dengan lima jahitan di kepala belakangnya, sementara Rizal, kelingking di tangan kanannya dililit perban karena dagingnya mengelupas tampak risau, sesekali Ia memegang kelingking itu dengan jari tangan kirinya memastikan perbannya tidak lepas.

Jojo adalah Fransiskus Jonathan, ketua HIMA Elektro Unpam dan Rizal, Ketua HIMA Manajemen Unpam, keduanya merupakan korban pengeroyokan yang pelakunya diduga merupakan oknum keluarga besar mahasiswa (KBM), salah satu organisasi mahasiswa yang cukup eksis di Universitas Pamulang.

Kronologi Pengeroyokan

Sabtu (09/10/21) malam sekira pukul 11.15 WIB, Jojo dan ketiga rekannya yang sedang diskusi di Sekretariat Hima Elektro, Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dibuat kaget dengan kedatangan puluhan orang tamu, dengan nada tinggi, salah satu tamu yang merupakan anggota KBM itu mendesak Jojo untuk segera mengklarifikasi flyer HIMA Elektro yang menolak aksi dan diposting di laman Instagram.

“Lima orang masuk ke Sekret, dan yang lainnya menunggu di lapangan,” kata Jojo menceritakan kronologis sebelum pengeroyokan dalam konferensi pers yang digelar bersama LBH NATA, Kamis (21/10/21).

Flyer menolak aksi serupa tidak hanya dibuat oleh HIMA Elektro, beberapa HIMA jurusan lain di Unpam membuat himbauan yang sama untuk tidak melakukan unjuk rasa. Namun, hanya HIMA Elektro yang diminta klarifikasi karena KBM tersinggung dengan kalimatnya.

Kalimat yang dimaksud adalah MAHASISWA TEKNIK ELEKTRO UNPAM MENOLAK IKUT AKSI  “Jangan mau dibodohi oknum yang tidak bertanggungjawab”.

Jojo sebagai ketua umum memiliki tanggung jawab moral untuk menghimbau anggotanya tidak mengikuti aksi, selain Karena pandemi masih mewabah, pengalaman waktu demo besar menolak UU cipta kerja setahun silam yang berujung pada peserta aksi ditahan Polisi membuatnya cukup memiliki alasan.

“Beberapa kawan kami ditinggal, dan yang ditahan pun yang membebaskannya senior kami dari HIMA Elektro,” tutur Jojo yang didampingi oleh perwakilan sebagian HIMA lintas jurusan.

Aksi protes mengawal demokrasi dengan cara demonstrasi memang bagian dari dinamika mahasiswa, Kebebasan bersuara hingga mengkritik telah dijamin oleh UUD pasal 281 ayat (4) untuk menegaskan keberpihakan kaum intelektual, Namun, seorang intelektual dalam melakukan tindakan dan perbuatannya haruslah menggunakan cara-cara intelek, dengan perhitungan, menyiapkan langkah antisipasi dan bertanggung jawab.

Selayang Pandang Mahasiswa Unpam Demo UU Ciptaker

RMS, mahasiswa teknik elektro Unpam mengaku memiliki pengalaman pahit namun berkesan ketika menjadi salah satu demonstran yang memprotes UU cipta kerja pada 08 oktober 2020, bersama dua rekannya dia mendapat ajakan turun aksi dari poster di grup kelas.

Baca Juga: Pakar Hukum Unpam Nilai PPA Tangsel Keliru Melepas Pelaku Pencabulan

Poster ajakan tersebut ditenggarai dibuat oleh mahasiswa dari KBM. artinya, aksi demo yang melibatkan ratusan mahasiswa Unpam tersebut dikoordinir dan seharusnya menjadi tanggung jawab KBM.

Bersama ratusan mahasiswa lain yang konon membuat jalan Pamulang-Ciputat padat merayap dilalui lautan manusia, Ia berangkat ke depan Gedung DPR/MPR RI dengan menggunakan bus dan truk hasil sewaan, sebagian lain menggunakan motor, bergabung dengan Massa lain di depan kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Tiba di lokasi, situasi telah chaos tak terkendali, mahasiswa berhamburan, polisi dengan brutal menembakkan gas air mata. RMS pingsan, rekannya yang melihatnya terbaring sibuk mencari bantuan, namun urung kembali (diketahui temannya itu sudah ditangkap Polisi). beruntung RMS ditolong oleh security dan diamankan di ruangannya.

“Sekarang saya sudah wisuda, Bang, cukuplah pengalaman itu menjadi bahan untuk nostalgia ke masa menjadi mahasiswa” kenangnya, melalui sambungan telpon, Jumat (22/10/21).

Berbeda dengan RMS, NH, Mahasiswi prodi Akuntansi Unpam mengalami pengalaman nahas, Ia yang pertamakali ikut aksi demo, bersama puluhan mahasiswa lain harus mendekam di Polda Metro Jaya selama dua malam.

NH tertarik ikut aksi karena didorong fantasi menjadi seorang demonstran, untuk memiliki pengalaman, Ia mengaku “Dari semester satu belom pernah kan, jadi dapet info itu ya udah ikut aja, kebetulan temen satu kelas juga ada yang ikut tiga orang,” katanya kepada Jurnalistika.id melalui telpon.

Sebelumnya, NH tidak mengetahui kalau menjadi peserta aksi, selain harus memiliki pengetahuan isu yang menjadi tuntutan, penanggung jawab atau koordinator lapangan (Korlap) yang menjamin keselamatannya harus tercantum di poster untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Pengalaman ini mudah-mudahan jadi pelajaran, mengikuti demo itu boleh, tapi perhatikan juga siapa yang mengkoordinir dan siapa penanggung jawabnya,” tuturnya.

Di hari kedua, NH dan puluhan mahasiswa lainnya yang ditahan di Polda dibebaskan setelah mendapat pendampingan hukum dan jaminan dari apa yang diklaim oleh Jojo, oleh seniornya di berbagai HIMA, salah satunya oleh senior HIMA Elektro.

Baca Juga: 3 Tuntutan Mahasiswa Unpam Korban Pengeroyokan yang Menolak Aksi

Tan Malaka dan Anjuran Aksi Massa

Aksi protes melalui demonstrasi memang sudah identik dengan dinamika mahasiswa sebagai bukti keberpihakan kaum intelektual kepada wong cilik, sekaligus sebuah upaya untuk mendorong kehidupan demokrasi yang lebih baik. Tetapi, aksi protes yang dilakukan sporadik tanpa terlebih dahulu melakukan perhitungan dan konsolidasi hanya akan seperti apa yang disampaikan Tan Malaka “Seseorang di Gurun Sahara yang memburu fatamorgana” melalui buku yang berjudul “Aksi Massa” yang ditulisnya tahun 1926.

 Lalu, apa yang akan dilakukan jika Tan Malaka masih hidup ketika mengetahui ada kasus di Pamulang yang melibatkan dua kelompok mahasiswa yang konon kaum intelektual itu yang karena ketidaksesuaian dalam menilai aksi demonstrasi hingga berujung pengeroyokan?

Saya kira, tetapi mudah-mudahan, Tan Malaka memiliki toleransi kepada mahasiswa masa kini yang sibuk dan fanatik dengan bendera dan ego organisasinya, cukup menempelengnya hingga sadar lalu bangkit dan meneruskan cita-citanya untuk Indonesia “Merdeka 100%”!!. Hidup Mahasiswa!

HMM Unpam

Mahasiswa

Mahasiswa unpam

RUU Omnibuslaw

Tangerang Selatan

universitas pamulang


Rekomendasi

Topik Pilihan

#

Vannesa Angel

#

Tangsel

#

Benyamin Davnie

#

Jokowi Dodo

#

PT. PITS

Terbaru

dsds

Fakta Menarik Desa Wisata Huta Tinggi: Dekat Danau Toba Identik Dengan Kerbau

Peringati Hari AIDS Sedunia, Ini Yang dilakukan KPA Purwakarta

Menitipkan Masa Depan Melalui Pohon : Investasi Oksigen

Ini Rincian UMK Banten Tahun 2022 yang Ditetapkan Gubernur Wahidin Halim

Pemkot Tangsel Gelar Pengembangan Pelaku Usaha Sektor Pertanian Demi Peningkatan Produksi

Ini Alasan Erick Thohir Gabung Banser

Pemkot Tangsel Gelar Giat Pengembangan Usaha Mikro Bagi Pelaku Usaha

Julham Firdaus Kembali Pimpin Bamus Tangsel, Begini Harapan Walikota