Jurnalistika
Loading...

Nilai Tukar Rupiah Melemah Lagi, Kini Tembus Rp16.176 per Dolar AS

  • Arief Rahman

    16 Apr 2024 | 17:45 WIB

    Bagikan:

image

Ilustrasi nilai tukar rupiah melemah. (Pixabay)

jurnalistika.id – Nilai tukar rupiah terus melemah, terbaru menyentuh level Rp16.176 per dolar AS pada Selasa (16/4/2023) sore ini. Nilai kemerosotan tersebut sebanyak 328 poin atau 2,07 persen.

Sebelumnya, penutupan perdagangan pada 5 April 2024 lalu berada di angka Rp15.845 per dolar AS. Kemudian setelah libur Lebaran 2024 rupiah melemah lagi menembus level Rp16.200 hingga per sore ini menjadi Rp16.176.

Analisis ICDX Taufan Dimas Hareva menjelaskan biang kerok pelemahan ini dikarenakan penguatan kinerja dolar AS. Diakibatkan aktivitas penjualan ritel Amerika Serikat.

“Pelemahan rupiah kali ini tertekan oleh penguatan yang terjadi pada kinerja indeks dolar, imbas dari rilis angka penjualan ritel Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan,” kata Taufan dikutip dari Antara, Rabu (16/4/2024).

Baca juga: Waspada! Ganjil Genap Kembali Berlaku di Jakarta Usai Cuti Bersama Berakhir

Taufan melanjutkan, data penjualan ritel AS yang lebih kuat tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (Fed) dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu lama.

Dalam laporan makro ekonomi AS, penjualan ritel secara bulanan tumbuh kuat sebesar 0,7 persen. Sementara ekspektasinya hanya 0,3 persen.

Kemudian, pada Februari lalu data penjualan ritel naik 0,9 persen, direvisi naik dari 0,6 persen. 

Data penjualan ritel adalah salah satu indikator utama belanja konsumen. Hal ini mencakup lebih dari dua pertiga perekonomian AS.

Mata Uang di Kawasan Asia Banyak yang Melemah

Namun, bukan hanya nilai tukar rupiah Indonesia yang bergerak ke zona merah. Tetapi beberapa mata uang di kawasan Asia juga mengalami hal serupa.

Misalnya, ringgit Malaysia melemah 0,3 persen, rupee India minus 0,07 persen, dan peso Filipina minus 0,3 persen. Ada juga dolar Singapura yang melemah 0,14 persen, won korea Selatan 0,77 persen, hingga yuan China minus 0,02 persen.

Sebagai informasi, ketika nilai tukar mata uang melemah, dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat secara luas. Harga barang impor akan naik karena biaya impor meningkat, yang bisa menyebabkan inflasi. 

Lalu orang-orang yang memiliki utang dalam mata uang asing akan merasa beban finansial yang lebih besar karena nilai utang mereka naik dalam mata uang lokal.

Selain itu, wisatawan asing mungkin juga berkurang karena liburan di negara tersebut menjadi lebih mahal bagi mereka. Hal ini dapat mengganggu industri pariwisata dan perdagangan. 

Akhirnya, investor mungkin juga ragu untuk menanamkan modalnya dalam negeri karena ketidakpastian nilai tukar, yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Baca berita Jurnalistika lainnya di Google News, klik di sini.

mata uang Indonesia

nilai tukar rupiah

trending


Populer

Tangsel Trending di X, Netizen Ramai Bahas Marshel Usai Diusung Gerindra Maju Pilkada
Tentang Kami
Karir
Kebijakan Privasi
Pedoman Media Siber
Kontak Kami