Jurnalistika

Apakah Teori Bumi Datar Itu Menurut Islam? Ini Penjelasan Gus Baha

  • Khazim Mahrur

    08 Jun 2022, 00:06 WIB

    Bagikan:

image

Gus Baha (Foto: laduni.id)

jurnalistika.id – Sebuah survei oleh Pemerintah Amerika Serikat pada 2018 mengungkap hal yang mengejutkan bagi para ilmuwan. Survei tersebut menyatakan bahwa 66 persen warga berusia 18 hingga 24 tahun yang yakin bahwa Bumi itu bulat. Dengan kata lain, sepertiga milenial mempertimbangkan bahwa bentuk bumi ini datar.

Namun, penemuan tersebut tak semata-mata menunjukkan “epidemi” bumi datar atau Flat Earth. Pasalnya, hanya 4 persen dari keseluruhan yang percaya bahwa bentuk Bumi itu datar.

teori bentuk bumi, bulat atau datar?
Ilustrasi bumi datar. Foto: Hellerick via Wikimedia Commons

Selain itu, survei itu juga menguak sembilan persen dari mereka yang ragu-ragu harus memilih antara Bumi bulat atau Bumi datar. Sementara 5 persen lainnya menegaskan mereka selalu percaya bahwa bumi bulat, dan 16 persen sisanya mutlak tak yakin.

Teori bumi datar tercetus sekitar Abad ke-19. Akan tetapi, akhir-akhir ini masih terus mendapat sorotan, terutama karena pengaruh media sosial.

Pandangan Gus Baha tentang Bentuk Bumi

Menanggapi hal tersebut, Ulama kharismatik K.H Bahauddin Nur Salim atau Gus Baha sebagaimana dikutip dari kanal You Tube Santri Gayeng, Senin (28/03/22) mengemukakan pandangannya tentang bentuk bumi.

Gus Baha mengawali pembahasannya dengan mengutip pernyataan Syeikh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Syeikh Abu Bakar Al-Baqilani bahwa semua lafadz itu tidak bermakna. Yang memaknai itu hati masing-masing. Bahasa hanyalah media komunikasi. Sebab, lafal menurutnya, jika dianalisis itu sulit dan rumit.

Meskipun rumit, menurut Gus baha, hal ini harus dipelajari. Sebab bagaimanapun juga hal tersebut merupakan ilmu, terlepas dari setuju atau tidak.

Lantas Gus Baha menjelaskan bahwa ketika ada ilmu Falaq yang menganggap bentuk bumi itu bulat, lalu ada Kyai yang tidak pernah ngaji lughat, maka menganggap hal tersebut sebagai suatu kebohongan. Menurutnya, bumi itu datar (flat) dengan bersandar pada dalil Al Qur’an, misalnya Surat Al Ghasyiyah ayat 30:

وَاِلَى الۡاَرۡضِ كَيۡفَ سُطِحَتۡ

“Dan bumi bagaimana dihamparkan?”

Menandakan bahwa hal tersebut keliru. Menurutnya, dipastikan yang bersangkutan tidak mendalami ilmu lughat (bahasa). Memang dalam konteks fi nadharil ‘aini (dalam pandangan mata) bumi itu seperti datar (flat), seperti karpet.

Logika Sederhana Gus Baha

Gus Baha kembali menanyakan, apakah sebab dalam pandangan mata tersebut datar, lalu hakekatnya bentuknya juga datar? Lantas beliau menganalogikan bahwa dalam pandangan mata matahari terbenam di bumi. Apakah hakekatnya matahari terbenam di bumi?

Lantas Gus Baha kembali membuat perumpamaan yang lebih sederhana, yakni kutu rambut yang ada di kepala akan menganggap bahwa kepala tersebut bentuknya itu datar seperti karpet, sebab kesana-kesini tetap datar. Persis ketika kita jalan atau lari kesana-kemari di atas bumi. Di manapun dan kemanapun kita pergi akan terasa datar (flat).

Dalam konteks ini, menurut Gus Baha, apa yang kita lihat tidak menunjukkan hakekat atau bentuk yang semestinya sebuah benda. Sebab hal tersebut hanya masuk ranah ilmu nadhor yang didasarkan pada penglihatan, maka hukumnya dilekatkan pada penglihatan, bukan pada hakekat bentuk suatu benda.

Baca berita dan informasi menarik lainnya dari jurnalistika di Google Newsklik di sini.

(khz)

bentuk bumi

Bumi Menurut Islam

flat earth society

Gus Baha

teori bumi datar