Jurnalistika
Loading...

Perang Kamboja-Thailand: Kronologi, Korban, hingga Penyebab

  • Jurnalistika

    25 Jul 2025 | 08:45 WIB

    Bagikan:

image

Ilustrasi perang thailand kamboja

jurnalistika.id – Ketegangan lama antara Thailand dan Kamboja memuncak menjadi konflik bersenjata terbuka pada Kamis (24/7/2025), setelah militer Thailand meluncurkan serangan udara ke wilayah Kamboja. Eskalasi ini menandai titik paling kritis dalam sengketa perbatasan kedua negara yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad.

Militer Thailand mengonfirmasi bahwa enam jet tempur F-16 telah disiagakan di perbatasan, dengan satu di antaranya meluncurkan rudal ke target militer Kamboja, menghancurkan fasilitas strategis. Serangan ini diklaim sebagai balasan atas tembakan roket dan artileri dari pasukan Kamboja yang sebelumnya menghantam permukiman warga di wilayah Thailand.

“Kami telah menggunakan kekuatan udara terhadap target-target militer sebagaimana telah direncanakan,” ujar Wakil Juru Bicara Angkatan Darat Thailand, Richa Suksuwanon, dikutip Reuters.

Kronologi Perang Thailand vs Kamboja

Bentrok bersenjata ini diawali sekitar pukul 07.35 waktu setempat, ketika satuan penjaga Thailand di Candi Ta Muen, wilayah sengketa di perbatasan, mendeteksi drone militer Kamboja melintas di atas wilayah mereka.

Tak lama, enam tentara Kamboja, salah satunya membawa granat peluncur roket (RPG), terlihat mendekati pagar kawat berduri dekat pos Thailand.

Meskipun pasukan Thailand meneriakkan peringatan, sekitar pukul 08.20, tembakan dilepaskan ke arah timur candi, memicu baku tembak antara kedua belah pihak.

Militer Thailand menuduh Kamboja melakukan serangan pertama, dan menyebut dua roket BM-21 mendarat di Distrik Kap Choeng, Surin, menyebabkan tiga warga sipil luka-luka.

Beberapa jam kemudian, enam pesawat F-16 dikerahkan dari Provinsi Ubon Ratchathani dan menyerang dua titik militer Kamboja di daratan.

Korban Jiwa dan Dampak

Menurut militer Thailand, sembilan warga sipil tewas, termasuk seorang anak laki-laki berusia delapan tahun. Enam orang meninggal di dekat sebuah pom bensin di Provinsi Sisaket, sementara tiga lainnya tewas di Surin dan Ubon Ratchathani. Selain itu, 14 warga lainnya dilaporkan luka-luka.

Sebelumnya, dua prajurit Thailand kehilangan anggota tubuh akibat ledakan ranjau darat, yang diklaim sebagai ranjau baru yang ditanam oleh pihak Kamboja.

Tuduhan ini dibantah keras oleh Phnom Penh, yang menyatakan bahwa ledakan kemungkinan berasal dari ranjau lama sisa konflik sipil beberapa dekade lalu.

Organisasi pembersih ranjau internasional memang telah lama mencatat bahwa Kamboja masih menyimpan jutaan ranjau aktif, peninggalan perang masa lalu.

Reaksi Kedua Negara

Pemerintah Thailand menilai serangan Kamboja sebagai pelanggaran terhadap warga sipil. Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, menyebut situasi ini sangat serius.

“Situasi ini memerlukan penanganan hati-hati, dan kami harus bertindak sesuai dengan hukum internasional. Kami akan melakukan yang terbaik untuk melindungi kedaulatan kami,” ujarnya.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Kamboja mengecam keras serangan udara Thailand dan menuduh Bangkok telah melanggar integritas wilayah Kerajaan Kamboja.

“Angkatan bersenjata Kamboja menjalankan hak sah untuk membela diri, sepenuhnya sesuai hukum internasional,” tegas Maly Socheata, juru bicara kementerian.

Mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, dalam unggahan di Facebook, menyatakan bahwa dua provinsi di negaranya telah menjadi target serangan udara Thailand, menambah ketegangan di tengah kemarahan publik yang kian memuncak.

Sementara dalam laporan terbaru, Thailand melaporkan 14 orang tewas, termasuk 13 warga sipil dan satu prajurit, akibat serangan roket dan artileri yang diluncurkan oleh pasukan Kamboja.

Latar Belakang Konflik

Perselisihan antara Thailand dan Kamboja berakar pada sengketa perbatasan sepanjang 817 kilometer yang belum sepenuhnya disepakati sejak zaman kolonial.

Bentrokan sporadis kerap terjadi, termasuk konflik besar pada 2011 yang berlangsung selama sepekan dan melibatkan artileri berat.

Ketegangan diplomatik meningkat sejak Mei 2025, setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam kontak senjata singkat. Situasi makin panas ketika Thailand menarik pulang duta besarnya dari Phnom Penh dan mengusir duta besar Kamboja dari Bangkok pada Rabu malam (23/7), hanya sehari sebelum serangan udara terjadi.

Situasi Terkini

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan. Kedua negara telah memperkuat pasukan di sepanjang perbatasan dan memobilisasi cadangan militer. Komunitas internasional mulai menyerukan de-eskalasi, namun belum ada inisiatif resmi mediasi.

Konflik ini berpotensi meluas jika tidak segera ditangani secara diplomatis, dengan banyak pihak khawatir bahwa perang terbuka di kawasan Asia Tenggara akan berdampak pada stabilitas regional secara luas.

Ikuti dan baca berita Jurnalistika lainnya di Google News, klik di sini.

Sumber: Reuters

konflik kamboja-thailand

kronologi perang kamboja thailand

perang kamboja thailand


Populer

Rangkuman Terkini Soal Banjir Besar di Sumut, Sumbar, dan Aceh
Tentang Kami
Karir
Kebijakan Privasi
Pedoman Media Siber
Kontak Kami