Jurnalistika
Loading...

Situ Gintung: Jejak Penjajahan Belanda di Tangsel dan Sumber Bencana

  • Jurnalistika

    09 Jul 2025 | 08:35 WIB

    Bagikan:

image

Panorama di Situ Gintung, Tangerang Selatan, Banten. (Instagram @febriamar)

jurnalistika.id – Air yang tenang di Situ Gintung menyimpan lebih banyak cerita daripada yang terlihat di permukaannya. Di balik gemericik aliran dan pantulan langitnya, tersimpan jejak masa lalu, masa ketika daerah ini belum menjadi bagian dari kota modern bernama Tangerang Selatan.

Sebelum kawasan ini dipadati permukiman dan jalan-jalan besar, tanah di sekeliling Situ Gintung menjadi saksi bisu bagaimana penjajahan Belanda membentuk sistem pengairan dan struktur wilayah yang kelak membawa dampak besar, bahkan hingga abad ke-21.

Lebih dari sekedar waduk semata, Situ Gintung adalah sisa dari masa ketika penjajah membangun dengan maksud mengendalikan alam demi kepentingannya sendiri.

Namun, warisan itu kini melebur dalam kehidupan masyarakat lokal, menyatu dengan keseharian warga. Namun, di era modern Situ Gintung juga pernah menjadi sumber bencana, dan kini kembali dipeluk sebagai ruang hidup.

Warisan Irigasi dari Masa Kolonial

Situ Gintung merupakan waduk buatan yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda jauh sebelum Indonesia merdeka. Dalam buku Kisah Ciputat dan Serpong Tempo Doeloe (2020) yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel, disebutkan bahwa Belanda sejak abad ke-18 mulai aktif membangun tanggul dan saluran air di kawasan sekitar Batavia.

Tujuannya pembangunan untuk pengendalian banjir di musim penghujan dan distribusi air untuk pertanian di musim kemarau. Situ Gintung adalah salah satu dari sekian banyak infrastruktur yang dibangun dalam rangka itu.

Baca juga: Banjir di Pondok Maharta Tangsel Capai 100 Cm

Air yang ditampung Situ Gintung bersumber dari aliran Sungai Cisadane. Sungai ini berhulu di Gunung Salak dan Gunung Pangrango di wilayah Bogor.

Dengan debit air yang cukup stabil, Cisadane menjadi tulang punggung sistem irigasi kolonial yang menyokong pertanian di bagian barat Batavia, termasuk wilayah yang kini dikenal sebagai Tangerang Selatan.

Situ Gintung menjadi titik pengendapan dan penyimpanan air, sekaligus sistem penyaluran untuk sawah-sawah yang tersebar di sekitar Ciputat, Pamulang, dan Pondok Betung.

Peralihan Fungsi di Era Modern

Setelah Indonesia merdeka, fungsi Situ Gintung lambat laun bergeser. Bila semula menjadi bagian dari sistem irigasi agrikultural, pada sekitar tahun 1970 hingga 1980, potensi keindahan alam Situ Gintung mulai dilirik.

Di tengah danau, terdapat pulau kecil yang menjadi daya tarik tersendiri. Bentuknya yang terhubung satu sama lain menjadikan area ini memiliki nilai estetika tersendiri.

Tidak heran jika kemudian para pebisnis mulai memanfaatkan kawasan ini sebagai destinasi wisata lokal.

Sejumlah fasilitas dibangun mengelilingi danau. Mulai dari taman, kolam pemancingan, restoran, hingga sarana olahraga. Tanggul yang mengelilingi danau pun tidak sekadar berfungsi sebagai bendungan, melainkan juga dimanfaatkan warga sekitar untuk membudidayakan ikan air tawar.

Situ Gintung menjadi semacam ruang sosial terbuka yang dinikmati banyak kalangan.

Tragedi Situ Gintung 2009

Namun, sejarah tak selalu menampilkan wajah cerah. Pada 27 Maret 2009, Situ Gintung mencatat peristiwa kelam yang tak akan mudah dilupakan. Tanggul setinggi enam meter yang mengurung waduk ini tiba-tiba jebol dini hari.

Hantaman air yang deras langsung menghanyutkan rumah-rumah warga yang berada di bawah tanggul. Dalam waktu singkat, kawasan padat penduduk itu berubah menjadi lautan lumpur dan puing.

Tragedi ini menewaskan 99 orang. Ratusan lainnya mengalami luka-luka, kehilangan anggota keluarga, dan tempat tinggal. Situ Gintung yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan, justru berbalik menjadi bencana.

Pemerintah menyatakan musibah ini sebagai bencana nasional. Banyak pihak kemudian mempertanyakan mengapa tanggul yang dibangun sejak era kolonial tak pernah diperbaiki secara serius.

Situ Gintung pun mengering pasca tragedi. Seolah turut berkabung bersama warga yang menjadi korban.

Renovasi dan Reposisi Sosial

Pemerintah pusat dan daerah segera bergerak. Proses renovasi tanggul dimulai tak lama setelah bencana. Pengerjaan ini berlangsung hingga 2011, termasuk penguatan struktur tanggul dan peningkatan sistem drainase di sekitar kawasan.

Selain untuk mencegah bencana serupa, renovasi ini juga bertujuan mengembalikan fungsi Situ Gintung sebagai ruang publik yang aman.

Kini, Situ Gintung telah kembali berfungsi sebagai waduk dan sekaligus ruang rekreasi. Warga Tangsel dan sekitarnya banyak yang memanfaatkan lokasi ini untuk bersantai, berolahraga, hingga melakukan kegiatan keluarga.

Dengan lanskap yang asri, rindang, dan udara yang relatif sejuk, Situ Gintung menjadi semacam paru-paru kecil di tengah pesatnya pembangunan wilayah perkotaan.

Merekam Jejak, Menjaga Warisan

Situ Gintung adalah bukti nyata bahwa warisan kolonial tidak hanya berupa bangunan tua atau jalur kereta api peninggalan Belanda. Infrastruktur pengairan, seperti tanggul dan waduk, juga menjadi bagian penting dari narasi sejarah Indonesia.

Di sisi lain, kisah Situ Gintung juga mengingatkan bahwa warisan masa lalu harus dirawat agar tidak menjadi malapetaka di masa depan.

Dari konstruksi kolonial, pergeseran fungsi menjadi objek wisata, hingga tragedi dan kebangkitan kembali, Situ Gintung menyimpan jejak panjang tentang relasi antara manusia, alam, dan kekuasaan. Sebuah danau yang tak hanya merefleksikan langit, tapi juga sejarah yang terus mengalir di bawah permukaannya.

Ikuti dan baca berita Jurnalistika lainnya di Google News, klik di sini.


sejarah situ gintung

Situ Gintung

Tangerang Raya

Tangsel


Populer

Rangkuman Terkini Soal Banjir Besar di Sumut, Sumbar, dan Aceh
Tentang Kami
Karir
Kebijakan Privasi
Pedoman Media Siber
Kontak Kami