jurnalistika.id – Throw-in panjang kembali jadi “senjata rahasia” di Liga Inggris musim ini. Sepintas terlihat seperti momen biasa untuk mengembalikan bola ke permainan, tapi belakangan cara ini justru jadi bagian taktis bagi klub-klub Liga Inggris.
Dalam catatan Opta, hingga pekan ketujuh Liga Inggris 2025-2026 sudah terjadi 262 lemparan ke dalam yang langsung mengarah ke kotak penalti lawan.
Angka itu sudah mencapai 45 persen dari total sepanjang musim lalu (578), padahal kompetisi baru berjalan kurang dari seperempat musim. Jika tren ini berlanjut, jumlah lemparan panjang musim ini bisa melampaui rekor tahun lalu dengan mudah.
Tim seperti Arsenal, Brentford, Sunderland, dan Fulham menjadi yang paling rajin mengandalkan taktik ini. Prinsipnya sederhana, lemparan jauh bisa menciptakan chaos di kotak penalti lawan dan membuka peluang menang dalam duel bola kedua.
Baca juga: STY Tepis Rumor Kembali Latih Timnas Indonesia
Data dari situs resmi Premier League mencatat, musim lalu rata-rata ada 1,52 lemparan panjang per laga, sedangkan musim ini melonjak jadi 3,44 kali per pertandingan.
Perubahan ini bukan kebetulan. Sejak akhir 2010-an, tim-tim Inggris mulai sadar bahwa throw-in bisa dimanfaatkan untuk menciptakan peluang mencetak gol yang sahih.
Menurut data The Athletic, lemparan jauh ke kotak penalti punya expected goals (xG) sekitar 0,022, lebih tinggi dibandingkan lemparan pendek di sepertiga akhir lapangan (0,010).
Siapa yang Memulai?
Fenomena lemparan ke dalam jarak jauh sejatinya bukan hal baru. Akar sejarahnya bisa ditelusuri ke era 1960-an lewat nama Ian Hutchinson, penyerang Chelsea yang terkenal dengan lemparan mautnya di final Piala FA 1970 melawan Leeds United.
Lemparannya kala itu menciptakan kekacauan di kotak penalti dan berujung gol penentu kemenangan.
Lalu muncul Andy Legg pada 1990-an, pemain dengan lemparan sejauh 44,6 meter yang bahkan sempat memegang rekor dunia. Dari sinilah tim-tim Inggris mulai sadar bahwa set piece semacam ini bisa menjadi peluang nyata mencetak gol.
Baca juga: Pekan Ke-9 Super League Digelar Pekan Ini, Diwarnai Laga Sengit
Namun, sosok yang benar-benar mempopulerkan lemparan panjang ke level modern adalah Rory Delap. Mantan pemain Stoke City itu membawa teknik khasnya, hasil dari latar belakang sebagai atlet lempar lembing, ke lapangan Premier League.
Bersama manajer Tony Pulis, Delap menjadikan throw-in sebagai bagian integral dari taktik menyerang Stoke.
Statistik mencatat, dalam dua musim (2008/09 dan 2009/10), lemparannya berperan langsung dalam 24 gol, menjadikan Stoke salah satu tim paling ditakuti di bola mati kala itu.
Keberhasilan Delap membuat banyak tim lain mulai melirik potensi lemparan jauh. Klub-klub seperti Liverpool bahkan merekrut pelatih khusus seperti Thomas Gronnemark, pemegang rekor dunia lemparan jauh, untuk mengajarkan teknik ini secara sistematis.
Dari situ, throw-in panjang berevolusi: bukan sekadar adu tenaga, tetapi kombinasi teknik, waktu, dan strategi.
Kembali ke Tren Modern
Kini, dengan permainan yang semakin cepat dan ketat, throw-in panjang kembali relevan. Arsenal menggunakan bek-bek untuk meluncurkan bola ke jantung pertahanan lawan.
Brentford dan Fulham pun menjadikannya opsi utama untuk menciptakan peluang cepat. Tren ini menunjukkan bahwa sepak bola modern juga tidak lepas dengan cara lama.
Kadang, kunci kemenangan justru datang dari sisi lapangan, lewat lemparan sederhana yang dilakukan dengan cara luar biasa.
Sejarah membuktikan, dari tangan Hutchinson, Legg, hingga Delap, satu lemparan panjang bisa mengubah jalannya pertandingan. Dan kini, Premier League kembali menghidupkan warisan itu dengan cara yang lebih ilmiah dan efisien.
Ikuti dan baca berita Jurnalistika lainnya di Google News, klik di sini.
Referensi: Opta, longthrowcoach.com

