jurnalistika.id – Musim lalu menjadi salah satu periode paling kelam dalam sejarah Manchester United dalam hal performa. Tim yang dulu ditakuti lawan kini bak kehilangan auranya sebagai Setan Merah.
Jangankan bertarung di papan tengah, tim asuhan Ruben Amorim ini malah terseok-seok di papan bawah. Alhasil trofi tak kunjung datang, tiket ke Liga Champions menguap.
Bahkan start musim baru pun diawali dengan rentetan hasil memalukan. Membuka laga dengan kekalahan dari Arsenal, lalu imbang lawan fulham, dan paling memalukan mereka kalah dari tim kasta keempat Inggris, Grimsby Town.
Baca juga: Barcelona Tanpa Yamal Lawan Newcastle, Rashford Jadi Andalan
Bruno Fernandes dan kawan-kawan baru bisa menang melawan Burnley di pekan ketiga Liga Inggris, itu pun didapat dengan susah payah.
Namun, kemenangan tersebut hanya kegembiraan sementara sebelum kembali dihajar habis-habisan oleh tim tetangga, Manchester City.
Performa Buruk, Cuan tetap Masuk
Menariknya, di balik kabar buruk itu, laporan finansial klub justru menghadirkan cerita berbeda. Manchester United tetap berjaya dalam urusan bisnis.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2025, Man United sukses mengantongi pendapatan hingga £666,5 juta atau sekitar Rp13,1 triliun. Angka menjadi rekor sepanjang sejarah klub.
Sektor komersial menjadi penopang utama. Kerjasama dengan Qualcomm, perusahaan teknologi raksasa di balik logo Snapdragon di dada jersey, menyumbang lebih dari £333 juta.
Tidak berhenti di situ, Old Trafford, meski sudah berusia uzur dan sering dikritik soal fasilitas, masih menjadi mesin uang.
Dari tiket pertandingan dan aktivitas matchday, stadion berkapasitas 74 ribu penonton itu menghasilkan £160 juta, tertinggi di Inggris dengan kenaikan signifikan 17 persen.
Unit bisnis lain seperti penjualan merchandise juga mencatat kenaikan. Ditambah langkah efisiensi besar-besaran yang dilakukan Sir Jim Ratcliffe sejak resmi masuk sebagai pemilik saham awal 2024, kerugian klub bisa ditekan drastis dari £113 juta menjadi £33 juta saja.
Meski demikian, tantangan finansial belum selesai. Absennya United di kompetisi Eropa membuat kontrak dengan Adidas dipangkas otomatis 10 persen. Situasi ini berpotensi mengurangi pemasukan untuk musim 2025/2026.
Menurut CEO Manchester United, Omar Berrada, pendapatan ini merupakan ciri khas Setan Merah yang tangguh.
“Klub sudah menunjukkan ciri khas Manchester United, yakni tangguh. Sebab kami tetap menghasilkan pendapatan rekor di tahun yang penuh tantangan bagi klub,” ucap Berrada kepada ESPN.
Ia menambahkan bahwa fokus manajemen bukan hanya menjaga pendapatan, melainkan juga memastikan arah klub kembali ke jalur yang benar.
“Kami akan bekerja keras untuk membuat klub lebih baik di berbagai sektor sepanjang musim 2025/2026,” tutupnya.
Ironis memang, ketika hasil di lapangan masih jauh dari harapan, justru laporan finansial yang menghibur.
Bagi United, setidaknya daya tarik komersial masih jadi senjata pamungkas untuk tetap bertahan di tengah badai performa buruk.
Ikuti dan baca berita Jurnalistika lainnya di Google News, klik di sini.
Sumber: ESPN

