Jumat, 21 Januari 2022

Tentang KamiRedaksiKontak Kami
Jurnalistika
Jurnalistika

Virus Covid-19 Tak Kunjung Usai, Berharap Ke Mahasiswa Atau ke Tuhan Yang Maha Esa?

  • Firman Sy

    04 Agt 2021, 10:54 WIB

    Bagikan:

<p>Photo/Septa Aditya Aslam </p>

Photo/Septa Aditya Aslam

Jurnalistika.id – Hampir akan 2 tahun negara Republik Indonesia menghadapi pandemi virus Covid-19, wabah ini tidak hanya memberikan efek krisis terhadap kesehatan, tetapi juga krisis ekonomi, dan krisis kepercayaan Masyarakat terhadap Pemerintah.

Suara tangisan, jeritan, rintihan setiap hari semakin terdengar nyaring sejalan dengan berlakunya perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang semakin terlihat seperti fatamorgana.

Lalu, di mana para aktivis itu, di mana mahasiswa berpihak?

Mahasiswa menolak UU Omnibus Law

Bagaimana dengan demonstrasi? bagaimana dengan suara lantang penyambung lidah rakyat? Sunyi, iya sunyi, aksi massa demonstrasi akan secepat kilat dikebiri dengan dalih melanggar aturan protokol kesehatan (prokes), begitu pun dengan aksi jari jemari kritis di media sosial, akan terkebiri dengan legitimasi sebuah aturan hukum yang disebut pelanggaran Undang-Undang ITE.

Gerakan mahasiswa memang mulai mati, lebih mati lagi ketika kampus-kampus menerima mahasiswa milenial yang ditempa pikirannya melalui media tatap muka virtual yang tidak kunjung selesai.

Bahkan keadaan ini mendisrupsi kampus, kurikulum perguruan tinggi berubah semata-mata untuk melayani mereka, mereka tidak tahu gap-gap yang terjadi. Antara dosen dan organisasi kemahasiswaan benar-benar tidak mampu lagi berperan total, organisasi mahasiswa dengan berbagai kegiatan menjadi kambing hitam penghambat masa studi.

Namun demikian, organisasi atau lembaga-lembaga mahasiswa tetap bertahan karena ada sosok-sosok mahasiswa yang militan, Sayang, mereka kurang berperan karena tiada dukungan infrastruktur ideologi politik gerakan mahasiswa, apalagi jika para mahasiswa yang berkuliah di kampus swasta, terkadang ketika mereka sedikit kritis, ancaman Dropout menggema di telinganya.

Gelombang gerakan mahasiswa yang bermunculan tidak lebih dari mempertontonkan kelompok sendiri, identitas, ideologi ataupun almamater. menunjukkan belum adanya kesatuan aksi, Belum memandang diri sebagai bagian dari suatu komunitas bersama seperti semboyan “Agent Of Change” yang mereka selalu agungkan.

Ironi Belajar Online, Virus Covid-19 dan Solidaritas Mahasiswa

Dengan metode perkuliahan online maka seharusnya mereka dapat lebih banyak waktu untuk melahap informasi secara tidak terbatas. Cukup menggunakan media elektronik, semua bisa mereka peroleh melalui internet. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas bumi dapat cepat mereka ketahui.

Dengan begitu, aksi solidaritas akan tetap bisa terbangun melalui kecanggihan teknologi, tapi justru bukan demikian yang tercipta, malah para mahasiswa yang konon milenial ini lebih asik bermain aplikasi menari virtual atau sibuk bermain aplikasi game online.

Sebagian dari mereka yang katanya kaum organisatoris, sibuk berdiskusi sampai pagi, akhirnya bangun siang hari sehingga lupa mengeksekusi ide-ide briliantnya.

Tak jarang, ide briliant mereka menjadi hanya sebatas konsep untuk ‘mengamen’ di jajaran birokrat, para pejabat, untuk sekedar menunjukan bargaining pragmatis karena mereka sudah “tidak tahan lapar”.

Jadi, di tengah krisis pandemi Virus Covid-19 yang tak kunjung usai, di tengah pergelutan ketimpangan, kontradiksi, kematian dan kelaparan rakyat yang garisnya berbeda tipis karena lambung yang terus bekerja walau tidak ada isinya.

Apakah buku Tan Malaka di tangan kiri dan Bung Karno di tangan kanan hanya sebatas untuk menarik perhatian Puan beralis tebal, berbibir tipis?

Apakah Rakyat masih bisa percaya kalimat di dunia ini hanya ada 2 maha, yaitu Mahasiswa dan Maha esa?! Atau pada akhirnya Rakyat hanya bisa berharap kepada 1 Maha, yaitu Tuhan MAHA PENCIPTA!

Penulis: Septa Aditya Aslam

Baca Juga: Baduy Sudah Lockdown Lebih (Dari) Dahulu

ironi mahasiswa

Mahasiswa

Merdeka belajar

Pandemi Covid-19

universitas pamulang


Rekomendasi

Populer

Mencermati Komitmen Pemerintah Menjawab Tantangan Fiskal 2022