Rabu, 17 Agustus 2022

Tentang KamiRedaksiKontak Kami
Jurnalistika

Opini: Reduksifitas Perkaderan HMI Cabang Ciputat sebagai Agen of Change

  • Jurnalistika

    15 Jul 2022, 20:24 WIB

    Bagikan:

image

Foto: Tony Yohana (Ketua Umum HMI Komipam Cabang Ciputata periode 2018-2019)

jurnalistika.id – Manusia merupakan makhluk sempurna yang diberikan akal untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Kesempurnaan ini jangan sampai menjadi boomerang apabila cara pandang yang dipakai adalah dengan membangggakan diri. Manusia sebagai makhluk sempurna juga memiliki kekurangan atau keterbatasan yaitu usia, keterbatasan umur atau usia inilah yang mengharuskan manusia untuk melakukan regenerasi untuk menjadi pemimpin di muka bumi, proses dari regenerasi inilah yang disebut sebagai perkaderan, selaras dengan pasal 9 Anggaran Dasar HMI yang mengatakan bahwa HMI berfungsi sebagai organisasi kader.

Perlu kita ketahui bahwa besarnya suatu organisasi tergantung dari bagaimana kesadaran anggotanya secara pasif, kesadaran ini harus dibentuk sejak kader menginjakkan kaki di pintu LK 1. Kesadaran yang dibentuk dalam hal ini merupakan kesadaran konstruktif positif yang mampu memposisikan dirinya di dalam kerangka struktur kemasyarakatan, sehingga kontribusi yang dihasilkan tidak hanya ditunjukan dengan sikap resistensi secara parsial namun diadaptasikan secara simultan yang berorientasi terhadap nilai- nilai sosial kemasyarakatan.

HMI Cabang Ciputat adalah salah satu cabang tertua yang memberikan kontribusi nyata dalam membangun SDM dengan tradisi intelektual tinggi. Nama besar dan strategi perkaderan merupakan hidangan utama dalam setiap pojok pojok diskusi. Terbangunnya suasana intelektual dengan dosis tinggi ini justru seolah menjadi distopia dengan utopisnya perkaderan di HMI Cabang Ciputat. Perkaderan dalam HMI seolah belum mampu menyentuh post-post sosial kemasyarakatan.

Kader HMI terlilit dalam eksklusifitas intelektual dan sibuk mengupgrade diri secara internal sehingga cita cita terwujudnya masyarakat adil makmur menjadi dongeng yang tidak habis untuk diceritakan.

Tantangan dalam perkaderan tentu selalu tumbuh dalam lintas waktunya, setiap periode kepimpinan mempunyai kendala yang berbeda beda, entah yang berasal dari internal maupu eksternal.

Namun menjadi buntu apabila menejerial dari kebutuhan kader HMI atas perkaderan tidak di distribusikan secara canggih kepada kader. Pemenuhan sarana dan prasarana merupan hal penting lain untuk mendongkrak kesadaran kader HMI.

Rasa memiliki dan rasa bangga oleh kader HMI dewasa ini kian terkikis. Menghilangnya kader pasca LK 1 seolah menjadi hal yang dibiasakan, padahal apabila seluruh elemen dari lokomotif HMI ini berjalan tentu pada akhirnya tidak akan ada penumpang yang turun dan terus kemudian menghilang. Sehingga tidak heran bagaimana intensitas Fluktuatif kader HMI dalam satu tahun kalender begitu tinggi.

Hal ini harus segera diminimalisir agar kader dapat konsentrasi dengan HMI. Apalagi dengan adanya Lembaga Profesi tentu menjadikan HMI sebagai universitas kedua untuk kebutuhan Mahasiswa. Kebutuhan kader HMI akan tercapai apabila kader HMI dapat mengaktualisasikan potensinya dalam rumah besar HMI,

Terlaksananya hal tersebut dapat mendorong power besar yang dimiliki HMI dengan segala ke-identifikasiannya sebagai rumah para cendikiawan dan intelektual.

Bagi Mahasiswa tentu ini sangat mewah, namun apalah fungi kemewahan tersebut apabila tidak sampai kepada perannya sebagai organisasi perjuangan.

Adanya frekuensi yang tegak lurus antara fungsi perkaderan dan peran perjuangan dalam HMI seperti 2 sisi mata koin yang tidak dapat dipisahkan, bagaimana kemudian perkaderan itu hidup dalam setiap nafas kader HMI.

Nilai perjuangan kader HMI akan tumbuh jika terus disuntikkan doktrin-doktrin yang tajam, agar terbentuk kader-kader yang militan, loyalis dan gemar membaca.

Post perkaderan HMI sepeeti P3A komisariat, Bidang PA cabang dan BPL Ciputat inilah yang menjadi garda terdepan dalam ruang kontrol yang memadai terhadap penetapan kebijakan dan strategi perkaderan dengan pemberian akses dalam memengaruhi kebijakan mengenai kebutuhan anggaran, kesiapan instruktur, dan penyediaan infrastruktur yang dipandang penting dalam terbentuknya mekanisme perkaderan.

Terakhir bagian terpenting dari perkaderan adalah terbinanya insan-insan yang mampu menjawab problematika masyarakat, sebagai kontrol sosial dan mitra kritis. Karena sejauh apapun kesadaran kolektif itu dibentuk, akhir dari perjalanannnya adalah yang bermanfaat bagi masyarakat.

Penulis: Tony Yohana (Ketua Umum HMI Komisariat Pamulang Cabang Ciputat periode 2018-2019)

Dapatkan berita pilihan jurnalistika.id setiap hari langsung ke ponsel di Grup Telegram “Sahabat Jurnalistika”. Mari bergabung dengan cara Klik link ini, kemudian join.

Himpunan Mahasiswa Islam

Hmi cabang ciputat