Jurnalistika
Loading...

Perang Iran vs Israel: AS Ikutan, Rusia Dilobi?

  • Jurnalistika

    23 Jun 2025 | 16:15 WIB

    Bagikan:

image

Ilustrasi perang antara Iran vs Israel di Timur Tengah.

jurnalistika.id – Ketegangan konflik Iran dan Israel kini semakin melibatkan kekuatan global. Amerika Serikat (AS) mengambil langkah agresif dengan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada Minggu (22/6/2025) dini hari. Sementara Iran segera melobi Rusia untuk menyelaraskan sikap.

Presiden AS Donald Trump menyebut serangan udara ke Natanz, Fordow, dan Isfahan sebagai pukulan telak yang ditujukan untuk membatasi kemampuan nuklir Iran.

“Kerusakan besar terjadi di semua situs nuklir Iran, seperti yang ditunjukkan oleh citra satelit. ‘Obliteration’ adalah istilah yang akurat!” ujar Trump melalui Truth Social.

Baca juga: SBY Ingatkan Dunia di Ambang Malapetaka jika Perang Iran-Israel Tak Terkendali

Trump juga menegaskan bahwa target utama serangan adalah fasilitas nuklir bawah tanah yang memiliki perlindungan tinggi.

“Struktur (bangunan) putih yang terlihat itu tertanam jauh di dalam batu, bahkan atapnya berada jauh di bawah permukaan tanah dan sepenuhnya terlindung dari api,” lanjutnya.

Ia menyebut kerusakan terparah terjadi pada lokasi bawah tanah yang sulit dijangkau.

Pernyataan tersebut dikaitkan dengan strategi AS untuk memaksa Iran mengakhiri perang dengan Israel.

Trump menambahkan bahwa langkah militer ini bersifat terbatas dan tidak dimaksudkan untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran.

“Kerusakan besar terjadi pada semua lokasi nuklir di Iran, seperti yang ditunjukkan oleh citra satelit. Pemusnahan adalah istilah yang akurat!” tegasnya kembali dalam pernyataan lanjutan.

Menlu Iran ke Russia

Sementara itu, sebagai respons atas serangan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Moskow pada Senin (23/6). Ia dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membicarakan perkembangan konflik dan koordinasi sikap.

Laporan media Iran menyebut Araghchi akan mengangkat “ancaman bersama” dalam pertemuan tersebut.

“Kami selalu berkonsultasi satu sama lain dan mengkoordinasikan posisi kami,” ujarnya saat singgah di Istanbul sebelum menuju Moskow.

Kedatangan Araghchi ke Rusia menjadi sorotan lantaran Iran menegaskan belum akan kembali ke jalur diplomatik sebelum melakukan pembalasan atas serangan Amerika.

“Teheran tidak akan kembali ke diplomasi hingga mereka melakukan pembalasan,” kata Araghchi kepada wartawan.

Di sisi lain, laporan dari pejabat militer AS menyebut bahwa serangan udara itu dilakukan dengan menggunakan 14 bom penghancur bunker, lebih dari dua lusin rudal Tomahawk, dan lebih dari 125 pesawat tempur.

Serangan ini dinilai sebagai eskalasi besar dalam konflik bersenjata yang telah memanas di kawasan Timur Tengah sejak pertengahan Juni.

Rusia belum memberikan pernyataan resmi atas kedatangan Menlu Iran, namun media lokal seperti TASS melaporkan bahwa Moskow dan Teheran sedang berupaya menyelaraskan posisi terkait perkembangan terbaru di kawasan.

Ikuti dan baca berita Jurnalistika lainnya di Google News, klik di sini.

Amerika Serikat

Donal Trump

konflik timur tengah

perang iran israel

Russia


Populer

Rangkuman Terkini Soal Banjir Besar di Sumut, Sumbar, dan Aceh
Tentang Kami
Karir
Kebijakan Privasi
Pedoman Media Siber
Kontak Kami