logo jurnalistika

Pakar Hukum Unpam Nilai PPA Tangsel Keliru Melepas Pelaku Pencabulan

  • Firman Sy

    20 Okt 2021, 07:13 WIB

    Bagikan:

Ilustrasi

Jurnalistika.id – Remaja perempuan berinisial J (14) warga Kedaung, Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi korban pencabulan saat belanja di warung kelontong dekat rumahnya.

Peristiwa pencabulan itu terjadi pada Senin, 18 Oktober 2021, ketika itu, korban diminta orangtuanya untuk membeli gula di warung pelaku T (25).

Namun, saat membelanjakan pesanan ibunya, korban malah dicabuli terduga pelaku di dalam. Korban dilepas pelaku setelah ada pembeli lain yang datang.
 
“Katanya (korban) dimasukin ke kamar (pelaku) sudah disekap di kamar. Terus ada pembeli, korban lepas dan pulang sambil nangis. Ibu korban terus ke warung marah-marah,” terang Agus,warga setempat, Selasa (19/10/21). 

Ibu korban dan warga kemudian mendatangi warung dan langsung mengamankan T. kemudian T dibawa ke Polres Tangsel.

Baca Juga: Meningkatnya DBD di Tangsel, Kantor Notaris Desra Natasha Kembali Gelar Giat Donor Darah

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tangsel, Ipda Tita Puspita membenarkan adanya pelimpahan terduga pelaku pencabulan yang diserahkan warga ke unit PPA Polres Tangsel. 
 
“Iya betul, tetapi korban kemarin tidak ingin membuat laporan polisi. Diselesaikan secara kekeluargaan atas permintaan dari korban,” ucap Tita. 
 
Atas kesepakatan damai itu, terduga pelaku dikembalikan.

“Kemarin sudah diamankan di polres, tetapi dari korban tidak ingin membuat laporan polisi dan ingin diselesaikan secara kekeluargaan. Jadi belum sempat di BAP,” ucap dia.

Baca Juga: Dewan PSI: Waspada DBD, Pemkot Tangsel Diminta Cepat Bertindak

Kasus Pencabulan Harus Dilanjutkan, Kendati Tidak Ada Laporan

Sementara itu, Pakar Hukum dari Universitas Pamulang (Unpam), Halimah menilai, keputusan Unit PPA Polres Tangsel keliru, ia menegaskan, proses hukum harus tetap dilanjutkan, kendati keluarga korban tidak melapor.

“Keputusan Unit PPA Polres Tangerang Selatan, yang tidak memproses hukum pelaku adalah keliru. Hal ini mengingat pencabulan merupakan delik murni, bukan delik aduan. Jadi meskipun korban tidak mau melaporkan, Polisi wajib memprosesnya,” tegas Dosen Pidana Fakultas Hukum Unpam tersebut, mengutip Merdeka.com, Rabu (20/10).

Dia menegaskan, dengan ditempuhnya penyelesaian perkara secara kekeluargaan dalam kasus pencabulan tersebut, sama halnya polisi yang tidak melanjutkan proses perkara terhadap tindak pidana pembunuhan. Lantaran korbannya mati dan tidak bisa membuat laporan.

“Dalam hukum pidana, pemeriksaan perkara yang bergantung pada aduan korban hanya berlaku pada delik aduan (klachtdelict). Sedangkan delik pencabulan bukan merupakan delik aduan. Terlebih lagi, korban dari kejahatan ini adalah anak-anak, yang diatur secara khusus dalam Undang-Undang tentang Perlindungan Anak, dengan konsekuensi pidana lebih berat dari pencabulan pada umumnya,” kata dia.

Penanganan perkara pidana pencabulan anak, lanjut Halimah, harus memperhatikan ketentuan UU, sebab anak berpotensi mengalami trauma secara psikologis pascakejadian, dan berpengaruh pada masa depannya.

Halimah meminta polisi melakukan penyidikan peristiwa ini dengan sungguh-sungguh, mengingat korban adalah anak-anak.

Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual terhadap anak

Kota Tangerang Selatan

Pemerkosaan

Pencabulan

Tangerang Selatan


Rekomendasi

Topik Pilihan

#

Vannesa Angel

#

Tangsel

#

Benyamin Davnie

#

Jokowi Dodo

#

PT. PITS

Terbaru

dsds

Fakta Menarik Desa Wisata Huta Tinggi: Dekat Danau Toba Identik Dengan Kerbau

Peringati Hari AIDS Sedunia, Ini Yang dilakukan KPA Purwakarta

Menitipkan Masa Depan Melalui Pohon : Investasi Oksigen

Ini Rincian UMK Banten Tahun 2022 yang Ditetapkan Gubernur Wahidin Halim

Pemkot Tangsel Gelar Pengembangan Pelaku Usaha Sektor Pertanian Demi Peningkatan Produksi

Ini Alasan Erick Thohir Gabung Banser

Pemkot Tangsel Gelar Giat Pengembangan Usaha Mikro Bagi Pelaku Usaha

Julham Firdaus Kembali Pimpin Bamus Tangsel, Begini Harapan Walikota