Jurnalistika

Seni Menepis Kesedihan: Kisah Pemuda dan Segenggam Garam

  • Khazim Mahrur

    09 Apr 2022, 22:00 WIB

    Bagikan:

image

Seni Menepis Kesedihan (Ilustrasi : Guillaume de Germain / Unsplash)

jurnalistika.id – Tidak seorangpun di dunia ini yang terlepas dari rasa sedih. Setiap orang pasti pernah merasakan kesedihan. Hanya saja derajat kesedihan seseorang tidak bisa disamakan, masing-masing orang berbeda-beda.

Demikian juga dalam hal menyikapinya, masing-masing manusia berbeda satu sama lainnya.

Dikisahkan, ada seorang pemuda yang sedang mengalami masalah yang sangat berat dalam hidupnya. Ujian dan kesulitan datang bertubu-tubi, silih berganti sehingga membuatnya putus asa.

Langkahnya tak terarah dan gontai serta air muka terlihat masam. Pemuda itu, memang sedang tidak bahagia. Kelihatannya ia sedang mengalami masalah yang berat dalam hidupnya.

Baca juga: Kisah Waraqah bin Naufal: Pendeta Nasrani yang Meramal Kenabian Muhammad SAW

Kemudian pemuda itu mendatangi rumah Pak Tua yang tersohor kearifan dan kebijaksanaannya. dalam mengatasi masalah.

Pemuda itu lalu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah mendengar cerita pemuda tadi, ia lantas mengambil segenggam garam dan segelas air. Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan.

“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya, “ujar Pak tua itu.

“Asin. Asin sekali, “jawab sang tamu, sambil meludah ke samping.

Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu. Sembari memegang bahu pemuda tadi, Pak Tua mengajaknya ke tepi telaga yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Sesampainya di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke telaga itu.

Dengan potongan kayu yang agak panjang, Pak Tua mengaduk air telaga itu, lalu menyuruh pemuda tadi meminumnya.

“Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah.” kata Pak Tua.

Pemuda tersebut menuruti perintah Pak Tua tersebut. Ketika pemuda telah selesai mereguk air danau itu, Pak Tua kembali bertanya, “Bagaimana rasanya nak?”

“Enak dan Segar,” sahut sang pemuda.

“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu,?”pak Tua kembali bertanya.

“Tidak, sama sekali aku tidak merasakannya” jawab sang pemuda.

Sembari tersenyum kecil, Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda dan berpesan kepadanya.

“Anak muda, dengarlah. Pahitnya masalah kehidupan, laksana segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang ku taburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda”, kata Pak Tua menasehatinya.

“Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita.”, imbuhnya

“Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”, tandas Pak Tua.

Baca juga: Gus Baha Kisahkan Wali yang Taklukkan Harimau Karena Sabar Hadapi Istri Judes

“Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kesedihan itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”, pungkasnya. (KM)

hikmah

Khazanah

Kisah

Seni Menepis Kesedihan


Tentang Kami
Karir
Kebijakan Privasi
Pedoman Media Siber
Kontak Kami