Senin, 24 Januari 2022

Tentang KamiRedaksiKontak Kami
Jurnalistika
Jurnalistika

Definisi Bahagia dan Cara Meraihnya, Bisa Jadi Resolusi 2022

  • Ratu Masrana

    01 Jan 2022, 13:15 WIB

    Bagikan:

<p>(C) Sasha Freemind on Unsplash</p>

(C) Sasha Freemind on Unsplash

jurnalistika.id – Bahagia. Satu kata sejuta makna. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan bahagia? Benarkah bila bahagia itu adalah kondisi yang selalu menyenangkan? Berarti kalau kita sedang bersedih itu namanya kita tidak bahagia?

Seorang Coach of Happiness Mom and Marital yang juga Direktur sebuah SDIT di Depok, Lita Edia Harti S.Psi, mengulas terkait hal ini kepada Jurnalistika.

Lita Edia Harti S.Psi, (Coach of Happiness Mom and Marital)

Sebelumnya, jebolan Psikologi UNPAD Jatinangor ini sudah menggeluti dunia edukasi parenting, pendidikan, pernikahan sejak tahun 2010.

Namun, pandemi yang menghantam kondisi kesehatan masyarakat ini membuatnya tergerak untuk mengkaji lebih jauh apa sih happiness ini sebenarnya.

Definisi Bahagia

“Sebenarnya riset tentang apa itu bahagia sudah dilakukan sejak lama oleh seorang beraliran psikologi positif bernama Martin Seligman. Pria asal New York, Amerika Serikat ini mengulas secara mendalam terkait bahagia hingga dia bilang bahwa bahagia itu tidak selalu dalam kondisi senang,” wanita yang lembut ini menjelaskan.

Jadi bahagia adalah apapun situasi kita sepanjang hati kita tetap tenang dan damai.

Nah, inilah yang melatarbelakangi banyaknya kajian psikologis bagaimana seseorang menjadi sejahtera secara psikologis atau “well being”.

Wanita inipun melanjutkan.

“Selama pandemi adalah masa yang menantang bagi kita. Betapa tidak, pandemi ‘menghajar habis’ mental kita. Bagaimana masyarakat kita jadi parno terhadap virus Corona – ketakutan terpapar. Dari situ saya memperdalam apa itu happiness dari sudut pandang psikologi positif.

Munculah tema bagaimana kita menghargai diri sendiri sehingga merasa lebih berharga dan sejahtera secara psikologi dengan menghayati bahwa tiap kita adalah unik, khas, ada lebih dan kurangnya,” papar wanita kelahiran Bandung, 14 Juli 1978 ini.

Setelah menyadari diri dengan segala ragam keotentikan tadi, maka seseorang tidak akan membandingkannya dengan orang lain. Jikapun ia akan mengkritik, maka protesnya itu dengan porsi secukupnya alias tidak berlebihan.

Sementara itu, terkait dengan definisi bahagia di atas, untuk mereka yang menganut ajaran Islam, bahagia dalam koridor Islam adalah terjalinnya hubungan baik kepada diri, kepada Tuhan dan kepada alam di luar diri sendiri.

Akar Bahagia

Dalam tubuh kita mengenal hormon kortisol. Hormon ini menyeimbangkan ketika kita stress. Tapi ketika hormon ini terlalu berlimpah akan berdampak kepada kesehatan kita, seperti osteoporosis, tekanan darah dan naiknya kadar glukosa darah.

“Kejadian inilah yang membuat saya lebih tergerak mengkaji tanpa henti untuk mengetahui akar happiness itu darimana sebenarnya,” ungkapnya.

Kebahagiaan berasal dari akar rasa berharga yang dimiliki seseorang.

Apakah itu?

Ketika seseorang merasa merdeka untuk mengekspresikan emosinya dengan bebas dan merdeka namun masih tetap sesuai dengan norma-norma sosial yang ada seperti sopan santun, menghargai orang lain, dll.

Jadi penerapan rasa berharga itu dibenarkan jika masih dalam koridor tidak membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

Mengelola Emosi

Bagaimana seseorang memperlakukan dirinya dan menghargainya itu termasuk pada tema-tema happiness.

Tema ini tentu saja berhubungan dengan kemampuan mengelola emosi yang berujung pada kemampuan berkomunikasi.

Mengelola emosi merupakan gerbang pada sebuah pintu sejahtera. Seseorang yang memiliki emosi positif layaknya seseorang yang berupaya pelan-pelan membuka lapisan-lapisan keharmonisan psikologi.

Rasa berharga, termasuk salah satu dari banyaknya lapisan sejahtera tersebut.

Lalu apa itu emosi positif?

Emosi positif adalah ceria, gembira, senang, bahagia, kagum dll. Sementara emosi negatif adalah kondisi marah, murung, sedih dll.

“Sebenarnya, tidak ada yang namanya emosi postif dan negatif. Ini hanya pelabelan saja. Untuk pembeda saja dari plot emosi. Sebenarnya semua emosi bermanfaat,“ ucap pemiliki motto “Bertumbuhlah berpijak pada rasa syukur” ini.

Ia pun menjelaskan lebih lanjut bahwa semua yang Allah turunkan adalah bermanfaat termasuk emosi yang ada pada diri kita.

Allah memberi emosi itu agar kita tahu kebutuhan kita apa. Misal ketika kita takut, ini adalah sinyal untuk memenuhi kebutuhan merasa perlindungan Begitupula ketika kita sedih – menunjukkan bahwa kita butuh ketenangan.

Dengan adanya emosi positif tadi, kita jadi lebih bisa mengelola beragam emosi, sehingga hati kita menjadi lebih tenang.

“Hati yang lebih tenang akan membuat ekspresi yang keluar dalam diri tidak berlebihan dan tidak terlalu meluap karena dikelola dengan baik. Misalpun marah, ya marah saja. Tapi pada porsi yang cukup. Sebenarnya ketika marah, kita menunjukkan apa yang penting bagi kita,” tambahnya.

Stigma bahwa jadi ibu itu harus selalu lembut, tidak terlalu tepat. Seorang ibu juga perlu marah. Jika ada seseorang yang mengaku tidak pernah marah dalam hidupnya, itu malah harus dicurigai karena marah adalah emosi dasar manusia.

“Jadi intinya, emosi itu butuh dialirkan. Perhatikan ya, kata yang dimaksud adalah dialirkan bukan diluapkan,” pungkasnya.

Baca juga:

Bahagia

Cara Bahagia

happines

Inspirasi

Resolusi 2022


Rekomendasi

Populer

Mencermati Komitmen Pemerintah Menjawab Tantangan Fiskal 2022