Senin, 24 Januari 2022

Tentang KamiRedaksiKontak Kami
Jurnalistika
Jurnalistika

Presiden Tangsel Club Tentang Kearifan Lokal : Mari Kembali ke Hulu

  • Ratu Masrana

    04 Jan 2022, 12:23 WIB

    Bagikan:

<p>Uten Sutendi, Presiden Tangsel Club di acara penghargaan sastra LITERA 2021 (14/12/21) Foto : Ratu Masrana</p>

Uten Sutendi, Presiden Tangsel Club di acara penghargaan sastra LITERA 2021 (14/12/21) Foto : Ratu Masrana

jurnalistika.id – Ditemui pada acara penghargaan sastra LITERA 2021, 14 Desember 2021 lalu di Swiss Belhotel, Serpong. Uten Sutendi, Presiden Tangsel club sempat menjelaskan tujuan berdirinya Tangsel Club yang sudah berumur 7 tahun dengan member lebih dari 200 orang.

“Cogitu Ergo Sum.” “Aku berpikir maka aku ada”. Ungkapan latin inilah yang pertama kali diucapkan Uten-sapaan akrabnya ketika menjawab wawancara dari Jurnalistika.

“Intinya ke arah membangun kreatifitas berfikir, anda berfikir maka anda ada. Eksis itu bukan sekadar ada tapi bagaimana kamu mencipta sesuatu, memberi makna,” tuturnya.

“Memberi sesuatu kepada kehidupan ini karena itu adanya Tangsel Club diharapkan dapat mendorong orang-orang untuk berfikir lebih terbuka atau open mind. Pola pikir ini harusnya menjadi agenda semua orang dan semua institusi atau pemerintah,” imbuh Teten.

Ia menjelaskan bahwa hampir semua komunitas ada di sini. Ada dari kalangan politisi, seniman, pengusaha, sastrawan, penyanyi, dll.

Uniknya, member dari Tangsel Club sengaja terdiri dari ketua-ketua komunitas saja.

“Semua kita tampung ketua-ketuanya aja, jadi ada ketua kadin, ketua asosiasi senirupa, ketua perhimpunan sastrawan dan lain-lain, biar discussnya mudah dan tetesan ide ke bawahnya lebih efektif,”papar lelaki yang menulis novel “Baduy Sebuah Novel” ini.

Kembali ke Akar

Pandemi sudah menemani kita selama dua tahun. Tak dapat dipungkiri, banyak yang terimbas dengan kondisi ini. Menurutnya, hikmah terbesar dari pandemi adalah semua pihak harus kembali ke akar atau hulu.

“Hulu itu berupa kebaikan, kemuliaan, integrity, kebenaran. Kita sudah capek dengan perdebatan-perdebatan di seputar cangkang. Akibatnya warnanya menjadi banyak – warna beda juga – karena terpaku dengan kulit maka perbedaan menjadi kompleks. Kita lupa, padahal isinya sama,” imbuhnya.

Kepada Jurnalistika, Uten menjelaskan bahwa sesama manusia kita punya tugas kehidupan untuk berkarya – untuk umat manusia yang lain. Jika kita terlalu banyak berdebat di ranah bungkus, hal ini membuat perdebatan menjadi tidak produktif.

“Terjadinya kerusakan di mana-mana itu karena kita rebutan kulit saja. Marilah kita kembali ke hulu. Artinya kita berbagi dan memberi, berilmu dan berakhlak kan itu. berbagi itu dalam bentuk apa? Dalam bentuk karya sesuai kapasitas dan profesi kita. Ini artinya kita memberikan karya-karya terbaik kita sebagai bukti taat pada Tuhan. Lihat saja orang-orang dulu, mereka menggarap sawah juga kebun dan memelihara sungai agar bisa bermanfaat untuk manusia,” jelasnya.

Rencana Uten dan Kearifan Lokal

Penulis kumpulan essay ‘Berdamai dengan Alam” ini membagikan rencana yang akan ia lakukan dalam waktu dekat.

“Saya ingin mengangkat novel saya ke layar lebar. Ada tiga novel saya yang memfokuskan bahasa mengenai adat istiadat suku Baduy,” katanya.

Menurut pemilik motto “Menjadi diri sendiri” ini, seringnya kita fokus pada pusat, menyebabkan kita lupa pada lokal.

Padahal, sudah jelas bahwa kearifan lokal mempunyai nilai-nilai luhur yang sarat makna.

“Saya sudah ke Lombok, Papua dan Sumatra dan selama ini saya fokus meneliti Baduy. Hampir kearifan lokal yang terpelihara membawa misi nilai luhur bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan alam,” tuturnya.

Tiga unsur inilah yang harus kearifan lokal bangun, tetapi nilai ini juga yang sering kita lupakan. Lupa karena banyaknya konflik di ranah opini yang tidak efektif dan produktif.

“Namun karena banyak lapis atau bungkus tadi, hingga berlapis-lapis, maka menimbulkan banyak warna dan cabang juga sekte alias banyak faksi akhirnya jauh dari pokok subtansinya,” sembari mengangguk pada teman-teman yang menyela wawancara kami.

Sebelum menutup obrolan ini, Uten berpesan agar kita jangan takut dengan penilaian orang lain.

“Sepanjang kita nyaman, go ahead. Ketika anda nyaman dengan cara anda berkarya, meski dianggap gila, sesungguhnya bakat anda di situ,” pungkas pria yang hobi hunting kuliner ini sambil tersenyum.

Presiden Tangsel Club

tangsel

Tangsel club

Uten Sutendi


Rekomendasi

Populer

Mencermati Komitmen Pemerintah Menjawab Tantangan Fiskal 2022