Jurnalistika
Loading...

Kasus Pelecehan Maba Oleh Anggota BEM UNY Terbukti Hoaks, Polda DIY Tangkap Pelaku

  • Arief Rahman

    13 Nov 2023 | 18:25 WIB

    Bagikan:

image

Gedung laboratorium FMIPA UNY. (Dok. fmipa.uny.ac.id_

jurnalistika.id – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan kasus pelecehan maba oleh anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (BEM UNY) terbukti hoaks. Pihak Polda DIY juga telah mengamankan pelaku yang belakangan diketahui berinisial RAN.

Direktur Reskrimsus Polda Kombes Pol Idham Mahdi mengatakan RAN telah mengakui perbuatannya. Dia pun sudah mengaku menjadi sosok dibalik akun yang membuat postingan di akun X (dulu bernama Twitter) @UNYmfs terkait berita bohong pelecehan maba oleh anggota BEM UNY itu.

“Yang bersangkutan beserta keteranganya telah mengakui perbuatannya bahwa yang berangsungkutan adalah yang memposting di akun @UNYmfs,” kata Idham saat konferensi pers di Mapolda DIY dikutip Antara, Senin (13/11/2023). 

Idham menjelaskan kabar dugaan kekerasan seksual di FMIPA UNY telah menjadi perhatian Polda DIY sejak muncul di akun @UNYmfs. Terlebih sejak viral dalam beberapa hari ke belakang.

Baca juga: Polda DIY Selidiki Dugaan Pelecehan Maba oleh Anggota BEM UNY

Setelah menerima laporan dari MF (21) selaku pihak yang dituduh sebagai pelaku dalam kasus ini. Polda DIY kemudian melakukan penyelidikan dan memeriksa sejumlah saksi.

Hasilnya pihak kepolisian mengetahui bahwa unggahan pada akun X @UNYmfs dikarang dan disebarkan oleh RAN. Dia menggunakan akun palsu dengan username @AkunSambaUeu untuk membuat cuitan tersebut.

Dari hasil pemeriksaan polisi menemukan barang bukti berupa telepon genggam milik tersangka. Lalu ditemukan akun X @AkunSambaUeu dan email yang tertaut pada ponsel tersebut.

Polda DIY Ungkap Motif Pelaku

Lebih lanjut, Idham menjelaskan motif RAN menyebar hoaks karena sakit hati lantaran tidak diterima menjadi bagian salah satu komunitas mahasiswa di UNY. Sementara MF selaku pihak yang dirugikan sekaligus satu fakultas dengan pelaku diterima.

“Motifnya adalah sakit hati karena pada saat itu saudara RAN mendaftar di salah satu komunitas mahasiswa dia ditolak. Sedangkan saudara MF diterima,” ujar Idham.

Selain itu, RAN juga mengaku sakit hati karena saat menjadi acara panitia acara festival politik, MF menegurnya lewat WhatsApp.

Atas perbuatannya, RAN dijerat dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana maksimal 10 tahun penjara.

Baca berita Jurnalistika lainnya di Google News, klik di sini.

kasus pelecehan

yogyakarta


Konten Sponsor

Populer

23 Korban Jiwa Erupsi Gunung Marapi Sudah Teridentifikasi, Ini Daftarnya
Tentang Kami
Karir
Kebijakan Privasi
Pedoman Media Siber
Kontak Kami