logo jurnalistika

Hari Tasyrik, Hari Untuk Makan dan Minum

Oleh

Malik Abdul Aziz

pada

21 Jul 2021, 16:39 WIB

Hari Tasyrik, Hari Untuk Makan dan Minum
Foto: ilustrasi keadaan sedang makan dan minum

Jurnalistika.id – Hari Tasyrik merupakan hari dimana umat Muslim dilarang untuk melakukan puasa karena merupakan hari untuk makan dan minum. Hari tersebut bertepatan setelah umat muslim merayakan Idul Adha, selama 3 hari.

Hari Tasyrik dalam kalender Hijriyah jatuh pada tanggal 11, 12 dan 13 bulan Zulhijjah, pada hari tersebut jamaah yang menunaikan ibadah haji sedang berada di Mina dan melakukan lemparan Jumrah.

Hari tasyrik menurut ajaran Islam adalah hari berdzikir. Beberapa dzikir yang diajurkan oleh ajaran Islam yaitu berzhikir kepada Allah dengan bertakbir setelah menunaikan salat wajib.

Baca juga: 5 Ide Olahan Daging Qurban yang Wajib Dicoba Selain Sate dan Rendang

Perbuatan ini disyariatkan hingga akhir hari tasyrik yang diriwayatkan dari Umar, Ali dan Ibnu Abbas.

Membaca tasmiyah (bismillah) dan takbir ketika menyembelih hewan Kurban. Berdzikir dan memuji Allah ketika makan dan minum yaitu dengan cara membaca basmallah dan dan mengakhirinya dengan hamdallah.

Berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari tasyrik bagi mereka yang melaksanakan ibadah haji.

Hari Tasyrik Hari Berdzikir

Dikutip dari nu.or.id, dzikir adalah tema yang tidak biasa, memiliki arti yang luas cakupannya. Berasal dari kata dzakara-yadzkuru-dzikran yang berarti menyebut, mengingat-ingat, dan menjaga. Dalam al-Qur’an kata dzikr terkadang digunakan untuk menunjukkan ‘pengetahuan’ (Q.S. al-Nahl [16]: 43).

Artinya, wilayah operasional dzikr sangat luas. Makna pertama ‘menyebut’, wilayah operasionalnya berada di lidah atau mulut, menunjukkan kepada sisi luar atau jasmani.

Baca juga: Pemerintah Ubah Istilah PPKM Darurat Jadi PPKM Level 4

Kedua ‘mengingat-ingat’ atau recollection yang beroperasi di hati.

Ketiga ‘menjaga’, apabila dua proses makna itu telah diterapkan, kita harus menjaga dzikr kita dengan istiqomah agar keseimbangan lahir (lisan) dan batin (hati) terjaga, hingga sampai pada titik harmonisasi jiwa dan raga.

Karena itu, setelah berakhirnya, kita perlu menghidupkan lagi ingatan kita tentang Tuhan. Kita perlu merituskan tasbih penyerahan diri, munajat pembersihan hati, tafakkur perbaikan jiwa, dan tadabbur pensucian laku. Agar hati kita tak lagi kaku mengingat Tuhan, memohon ampunanNya dan berbaik sangka kepadaNya.

Berita Terkait

Meme Kocak Makan di Warteg Cuma 20 Menit

News

dalam 7 jam

Meme Kocak Makan di Warteg Cuma 20 Menit