logo jurnalistika

Bank Dunia Rilis Proyeksi Nasib Toko Offline

  • Firman Sy

    31 Jul 2021, 10:25 WIB

    Bagikan:

Photo/Ilustrasi

Jurnalistika.id – Bank Dunia merilis proyeksi nasib toko offline ditengah melonjaknya transaksi belanja online melalui situs E-commerce sebagai dampak dari masyarakat yang terpaksa untuk mengurangi aktivitas langsung karena pandemi Covid-19.

Ekonom Senior Bank Dunia, Sailesh Tiwari, memproyeksikan aktivitas belanja online belum akan menggantikan sepenuhnya kegiatan belanja langsung di toko Indonesia.

“Berdasarkan data yang ada saat ini, saya rasa belum ke arah menggeser belanja langsung di toko. Bahkan di negara-negara lain yang aktivitas perdagangan online-nya lebih tinggi dari Indonesia, yang terjadi tidak seperti itu,” kata Tiwari di Jakarta seperti dilansir dari Kumparan, Kamis (29/7).

Baca Juga: Lokertangsel.com, Website Lowongan Kerja Tangerang Selatan

Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengungkapkan lonjakan transaksi di e-commerce sepanjang semester I 2021. Menurutnya, transaksi online itu tumbuh pesat sebesar 63,4 persen secara year on year.

“Total nilai transaksinya mencapai Rp 186,7 triliun. Sedangkan di sepanjang 2021, BI memproyeksi pertumbuhan transaksi e-commerce akan meningkat 48,4 persen atau senilai Rp 395 triliun,” kata Perry Warjiyo.

Gubernur Bank Indonesia

Optimalisasi Digital Sebagai Respon terhadap Ramalan Bank Dunia

Meski pertumbuhannya fantastis, namun Bank Dunia menilai belanja online di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala. Antara lain kepercayaan masyarakat di sejumlah daerah yang masih rendah, jaringan internet yang belum stabil, dan keterampilan penggunaan internet yang minim.

Oleh karena itu, ia pun mendorong pemerintah untuk terus mengupayakan pelaku usaha, terutama yang berskala usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memanfaatkan teknologi digital. Pemerintah perlu memberikan pelatihan agar para pedagang memiliki keterampilan memanfaatkan platform perdagangan digital.

“Keterampilan ini penting sekali, karena bahkan di antara mereka yang sudah berada di pasar online, yang berpendidikan lebih tinggi akan memiliki pendapatan lebih tinggi. Jadi ada kesenjangan juga di antara mereka yang sudah berada di platform belanja online,” katanya.

Baca Juga: Digitalisasi, Kunci Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi

Dalam laporan terbarunya, Bank Dunia menekankan agar ada upaya untuk membuat teknologi digital yang dapat digunakan oleh semua orang agar bersifat inklusif.

Saat ini, pemanfaatan teknologi digital bertumbuh cepat di Indonesia, dengan intensitas penggunaan lebih tinggi dibandingkan negara di kawasan yang sama. Namun, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk membuat adopsi teknologi digital lebih merata.

“Masih ada tantangan yang dihadapi, sebagaimana di wilayah yang lain juga, terkait dengan perkembangan bandwith ponsel dan bagaimana yang digunakan masih yang rendah. Ini yang dibahas, bagaimana kita mengelola infrastruktur untuk mendorong lebih banyak masyarakat yang belum bisa akses internet,” kata ekonom senior itu.

Bank Dunia

Bank indonesia

Online vs Offline

Toko Offline

Toko Online


Rekomendasi

Topik Pilihan

#

Vannesa Angel

#

Tangsel

#

Benyamin Davnie

#

Jokowi Dodo

#

PT. PITS

Terbaru

dsds

Fakta Menarik Desa Wisata Huta Tinggi: Dekat Danau Toba Identik Dengan Kerbau

Peringati Hari AIDS Sedunia, Ini Yang dilakukan KPA Purwakarta

Menitipkan Masa Depan Melalui Pohon : Investasi Oksigen

Ini Rincian UMK Banten Tahun 2022 yang Ditetapkan Gubernur Wahidin Halim

Pemkot Tangsel Gelar Pengembangan Pelaku Usaha Sektor Pertanian Demi Peningkatan Produksi

Ini Alasan Erick Thohir Gabung Banser

Pemkot Tangsel Gelar Giat Pengembangan Usaha Mikro Bagi Pelaku Usaha

Julham Firdaus Kembali Pimpin Bamus Tangsel, Begini Harapan Walikota