Jurnalistika

Ketahui Berbagai Cara Baca Shalawat Ya Rabbi bil Musthafa

  • Khazim Mahrur

    22 Feb 2022, 14:50 WIB

    Bagikan:

image

Isra and Mi’raj written in Arabic Islamic calligraphy. (Foto by Istock)

jurnalistika.id – Bulan rajab mengingatkan kita pada peristiwa besar dalam sejarah Islam yakni peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Dalam rangkaian acara perayaannya salah satunya dengan membaca shalawat kepada Nabi. Salah satu shalawat yang sering dilantunkan oleh umat Islam ialah “Ya Rabbi bil Musthafa”.

Dalam melantunkan shalawat tersebut, ada yang membaca di luar kelaziman yang sering kita dengar. Yakni dibaca “yaa rabba” dengan memfathah huruf “ba” dalam kata “rabb”. Jadi, dibaca “yaa rabba bil musthofa”, bukan “Ya Rabbi bil Musthafa”.

Hal ini tentu saja memantik polemik. Bagi mereka yang membaca “ya rabi bil mustofa”, cenderung menyalahkan mereka yang membaca “ya rabba bil musthofa” dan begitu pula sebaliknya.

Berdasarkan hal tersebut maka pertanyaannya adalah dibaca ya Rabbi bil Musthafa atau yaa rabba bil musthofa, mana yang benar?

Baca juga: 5 Hal Ini Penting Dilakukan Untuk Persiapan Bulan Suci Ramadhan

Status Kata “Rabbi”

Sebelum menentukan harakat akhir dari kata tersebut, apakah fathah ataupun kasrah, terlebih dahulu dijelaskan status kata “rabbi”. Selain itu, dijelaskan pula hal-hal yang melekat atau berkaitan dengan kata tersebut.

Hal ini penting terlebih dahulu diketahui sebab status kata dalam kalimat sangat berpengaruh terhadap bentuk harakatnya.

Dalam lafal tersebut terdapat salah satu huruf nida’ (seruan atau panggilan) yakni يَا (yaa) yang artinya Wahai.

Sebelum dimasuki huruf nida’ yaa, maka lafal qasidah burdah tersebut asalnya  رَبِّـيْ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا yang artinya: Tuhanku, dengan (kedudukan) al Musthafa (Nabi Muhammad SAW) sampaikanlah maksud-maksudku.

Lafal “rabbii” dalam kalimat tersebut merupakan jumlah idhafah. Kata rabbi merupakan “mudhaf” sementara huruf “ya mutakallim” merupakan “mudhaf ilaih”. Jadi, ketika dimasuki huruf nida yaa maka kata rabbii merupakan munada mudhof pada ya mutakallim.

Selain itu, kata “rabb” merupakan isim shahih akhir, sebab akhir huruf kata tersebut tidak berupa huruf illat (alif, wawu dan ya). Dengan demikian maka kata “ya rabbi” dalam lafal tersebut merupakan “munada mudhaf pada ya mutakallim”.

Kaidah Nahwiyyah tentang Munada Mudhaf pada Ya Mutakallim

Dalam Kitab Alfiyyah Ibnu Malik dijelaskan secara khusus pada bab tersendiri yakni pada bab “al-Munada al-Mudhaf ila ya’ al Mutakallim” sebagai berikut:

وَاجْـعَـلْ مُنَادَى صَـحَّ اِنْ يُضِفْ لِيَا # كَـعَـبْـدِعَـبْـدِيْ عَـبْـدَ عــَبْـدَا عـَـبْــدِيـَـا

Jadikanlah munadha yang berupa isim shahih akhir yang dimudhafkan pada ya mutakallim # seperti contoh lafal: ‘abdi, ‘abdii, abda, ‘abdaa, dan abdiya.”

Berdasarkan dalil di atas, maka munadha yang berupa isim shahih akhir yang dimudhafkan pada ya’ mutakallim dapat dibaca dengan lima cara, yaitu: pertama, membuang ya mutakallim dan mencukupkan kasrah sebagai pengganti ya yang dibuang.

Cara ini paling banyak dilakukan. Contohnya يَا عِبَادِ فَاتَّقُوْنَ, “Wahai hamba-hambaku, maka bertakwalah kepada-Ku” (Q.S. az-Zumar [39]: 16).

Kedua, menetapkan ya’ mutakallim dengan harakat sukun. Cara ini juga banyak digunakan akan tetapi tidak sebanyak dengan yang pertama. Contohnya
يَا عِبَادِيْ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ “Wahai hamba-hambaku tiada kekhawatiran atas kamu dan tidak pula bersedih (Q.S. az Zukruf [43] : 68).

Ketiga, mengganti ya’ mutakallim dengan alif lalu membuangnya dan dicukupkan fathahnya huruf akhir. Contohnya يَا عَبْدَ . wajah ini diperbolehkan oleh Imam Ahfasy dan Al Farisy, meskipun dengan mengumpulkan membuang ‘iwad (pengganti) dan mu’awwad (yang diganti).

Keempat, mengganti ya’ mutakallim dengan alif dan diharakati fathah pada huruf akhirnya. Contohnya يَا عَبْدَا

Kelima, menetapkan ya’ mutakallim dan dibaca fathah. contohnyaقُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوا , “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri (Q.S. az Zumar [43] :53).

Baca juga: Ciri-Ciri Datangnya Lailatul Qadar. Malam Turunnya Al-quran

Apakah Boleh Membaca Ya Rabbi bil Musthafa dengan 5 Wajah?

Sebagaimana diketahui bahwa kata “rabbi” merupakan isim shahih akhir karena huruf akhirnya bukan berupa huruf ‘illat (ا ي و). Maka, kata “rabbii” setelah dimasuki huruf nida “yaa”, berdasarkan kaidah di atas boleh dibaca dengan 5 (lima) cara, yakni: “ya rabbi, ya rabbii, ya rabba, ya rabbaa, dan ya rabbiyaa”.

Dengan demikan, dapat disimpulkan bahwa membaca ya rabbi bil musthafa dengan mengkasrah huruf akhir pada kata “rabb” berdasarkan kaidah di atas adalah benar.

Sementara yang membaca “ya rabba bil musthafa” dengan memfathah huruf akhir pada kata rabb juga benar. Bahkan bisa juga dibaca di luar dari dua hal tersebut. Yakni ya rabbii, ya rabbaa, dan ya rabbiya, dengan syarat tidak “merusak” bahar (irama/lagu) dari qasidah burdah tersebut.

Meskipun demikian, agar tidak melahirkan polemik dan kegaduhan yang dapat memicu kesalahfahaman dan hal-hal lain yang negatif.

Sebaiknya tetap dibaca sesuai kaidah tata bahasa arab dan juga mempertimbangkan aspek kelaziman yang sudah berlaku di tengah-tengah masyarakat.

Wallahu A’lam.

bulan rajab

isra miraj

shalawat nabi

Shalawat Nabi Muhammad SAW


Tentang Kami
Karir
Kebijakan Privasi
Pedoman Media Siber
Kontak Kami