Jurnalistika
Loading...

RAGAM

5 Fakta Manarik Bungo Lado, Tradisi Memperingati Maulid Nabi di Padang Pariaman

Bunga Lado merupakan tradisi masyarakat Padang Pariaman dalam memperingati Maulid Nabi, apa saja hal uniknya?

  • Umar Batra

    25 Sep 2023 | 07:15 WIB

    Bagikan:

image
Bungo Lado menjadi tradisi unik memperingati Maulid Nabi di Padang Pariaman. (paritmalintang.padangpariamankab.go.id)

Masyarakat Muslim di Padang Pariaman memiliki tradisi unik dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang disebut Bungo Lado. Hal manarik dari tradisi ini yaitu hampir selalu hadir di setiap korong dan nagari di Kabupaten Padang Pariaman.

Padang Pariaman merupakan salah satu daerah di Sumatera Barat (Sumbar). Mayoritas penduduk di Sumbar memang dikenal menganut agama Islam, begitu juga di Padang Pariaman. Untuk itu, bukan hal mengherankan mereka mempunyai tradisi unik dalam memperingati kelahiran Nabi Agung Muhammad SAW.

Tradisi Bungo Lado memiliki hal menarik yang penting diketahui agar mengenalnya. Karena itu, berikut telah dirangkum dari Portal Indonesia lima di antaranya.

1. Bungo Lado Berasal dari bahasa Minang

Sebagai tradisi yang lahir di tanah Minang, tentu saja Bungo Lado merupakan istilah yang berasal dari bahasa daerah tersebut. Bungo artinya bunga, lado artinya lada atau cabe. Secara denotasi bermakna bunga cabe.

Akan tetapi, konotasi bungo lado dalam pengertian ini bukan berarti bunga cabe secara harfiah, melainkan pohon uang. Karena tradisi perayaan Maulid Nabi ini dilakukan dengan cara membuat semacam pohon hias yang dihiasi oleh uang-uang kertas.

Jadi, jangan salah mengartikan ketika mendengar katanya. Karena memang itulah keunikan dari tradisi yang sudah diperingati sejak zaman dulu ini.

2. Bentuk pohon uangnya sangat beragam sesuai dengan kreatifitas masyarakat

Dalam membuat Bungo Lado, biasanya masyarakat akan membuat bentuknya dengan kreatifitas masing-masing. Namun, yang jelas uangnya nanti bisa ditempelkan dah menjadi indah untuk dilihat.

3. Uang merupakan iuran dari masyarakat dan dikoordinir oleh kapalo mudo

Penggalan ini menggambarkan pengumpulan dana untuk merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Adalah sebuah tradisi yang melibatkan kontribusi finansial dari masyarakat, dipimpin oleh kapalo mudo atau ketua pemuda yang biasanya adalah ketua Karang Taruna.

Ketua pemuda ini memberitahukan kepada seluruh warga desa yang ingin menyumbangkan dana untuk tradisi Bungo Lado. Kontribusi tersebut dikumpulkan di lokasi-lokasi strategis di desa seperti pos ronda dan warung milik penduduk.

4. Masyarakat bekerja sama membuat Bungo Lado

Setelah mengumpulkan dana, ketua pemuda bekerjasama dengan perwakilan masyarakat untuk mencari dan menghias ranting-ranting pohon, lalu mendekorasinya menjadi pohon uang. Ranting-ranting dipercantik dengan kertas berwarna dan dipasangi uang dari sumbangan masyarakat.

Jumlah uang yang terkumpul bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah, dan semakin banyak uang yang terkumpul, maka semakin besar Bungo Lado yang mereka buat. Makanya tidak semua Bungo Lado itu memiliki ukuran yang sama dan bentuk yang serupa.

5. Uang Bungo Lado disumbangkan kepada warga

Setelah Bungo Lado berhasil dibuat, masyarakat akan mengaraknya menuju salah satu masjid atau surau. Dana yang terkumpul dari sumbangan ini disumbangkan untuk mendukung kegiatan keagamaan di surau. Selain membawa bungo lado, prosesi arakan juga menampilkan makanan khas bernama jamba yang dimasak oleh masyarakat desa.


  • Umar Batra

    Hanya sebatas penggemar dunia penulis dan gemar berbisnis

Jurnalistika Community adalah platform terbuka untuk menulis. Semua konten sepenuhnya milik dan tanggung jawab kreator. Pelajari Selengkapnya.

Artikel lain dari Umar

    Kamu suka artikel dari penulis ini? Lihat lagi yang lainnya dari Umar Batra

    Rekomendasi