Masyarakat Muslim di Padang Pariaman memiliki tradisi unik dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang disebut Bungo Lado. Hal manarik dari tradisi ini yaitu hampir selalu hadir di setiap korong dan nagari di Kabupaten Padang Pariaman.
Padang Pariaman merupakan salah satu daerah di Sumatera Barat (Sumbar). Mayoritas penduduk di Sumbar memang dikenal menganut agama Islam, begitu juga di Padang Pariaman. Untuk itu, bukan hal mengherankan mereka mempunyai tradisi unik dalam memperingati kelahiran Nabi Agung Muhammad SAW.
Tradisi Bungo Lado memiliki hal menarik yang penting diketahui agar mengenalnya. Karena itu, berikut telah dirangkum dari Portal Indonesia lima di antaranya.
1. Bungo Lado Berasal dari bahasa Minang
Sebagai tradisi yang lahir di tanah Minang, tentu saja Bungo Lado merupakan istilah yang berasal dari bahasa daerah tersebut. Bungo artinya bunga, lado artinya lada atau cabe. Secara denotasi bermakna bunga cabe.
Akan tetapi, konotasi bungo lado dalam pengertian ini bukan berarti bunga cabe secara harfiah, melainkan pohon uang. Karena tradisi perayaan Maulid Nabi ini dilakukan dengan cara membuat semacam pohon hias yang dihiasi oleh uang-uang kertas.
Jadi, jangan salah mengartikan ketika mendengar katanya. Karena memang itulah keunikan dari tradisi yang sudah diperingati sejak zaman dulu ini.
2. Bentuk pohon uangnya sangat beragam sesuai dengan kreatifitas masyarakat
Dalam membuat Bungo Lado, biasanya masyarakat akan membuat bentuknya dengan kreatifitas masing-masing. Namun, yang jelas uangnya nanti bisa ditempelkan dah menjadi indah untuk dilihat.
3. Uang merupakan iuran dari masyarakat dan dikoordinir oleh kapalo mudo
Penggalan ini menggambarkan pengumpulan dana untuk merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Adalah sebuah tradisi yang melibatkan kontribusi finansial dari masyarakat, dipimpin oleh kapalo mudo atau ketua pemuda yang biasanya adalah ketua Karang Taruna.
Ketua pemuda ini memberitahukan kepada seluruh warga desa yang ingin menyumbangkan dana untuk tradisi Bungo Lado. Kontribusi tersebut dikumpulkan di lokasi-lokasi strategis di desa seperti pos ronda dan warung milik penduduk.
4. Masyarakat bekerja sama membuat Bungo Lado
Setelah mengumpulkan dana, ketua pemuda bekerjasama dengan perwakilan masyarakat untuk mencari dan menghias ranting-ranting pohon, lalu mendekorasinya menjadi pohon uang. Ranting-ranting dipercantik dengan kertas berwarna dan dipasangi uang dari sumbangan masyarakat.
Jumlah uang yang terkumpul bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah, dan semakin banyak uang yang terkumpul, maka semakin besar Bungo Lado yang mereka buat. Makanya tidak semua Bungo Lado itu memiliki ukuran yang sama dan bentuk yang serupa.
5. Uang Bungo Lado disumbangkan kepada warga
Setelah Bungo Lado berhasil dibuat, masyarakat akan mengaraknya menuju salah satu masjid atau surau. Dana yang terkumpul dari sumbangan ini disumbangkan untuk mendukung kegiatan keagamaan di surau. Selain membawa bungo lado, prosesi arakan juga menampilkan makanan khas bernama jamba yang dimasak oleh masyarakat desa.
- UB
Hanya sebatas penggemar dunia penulis dan gemar berbisnis
Rekomendasi
Opinion28 Agt 2025Seolah-olah Mereka Paham Anarkis
Opinion08 Agt 2025Pak! Bendera One Piece Bukan Barang Menakutkan
Opinion01 Agt 2025Kala Indonesia Hampir Bangkrut di Tangan Soekarno
Ragam01 Agt 20256 Cara Ampuh Bikin Pasangan Luluh Ketika Sedang Emosi
Opinion15 Jul 2025Omong Kosong Pendidikan Gratis di Negeri Seribu Janji Manis
Opinion27 Feb 2025Perempuan: Tubuhku, Pakaianku, Adabku
Movie12 Feb 20256 Film Hot China Nuansa Jadul, Cocok Temani Kesendirian
Education13 Jan 2025Menilik Mesin Biodiesel Rancangan Mahasiswa Teknik Kimia Unpam: Keunggulan dan Cara Kerjanya
Opinion02 Jan 2025Orang-orang Goblok di Jalan
Opinion30 Des 20242025 Tiba, Masih Pentingkah Organisasi Bagi Mahasiswa?
