Setelah Indonesia melaksanakan pemilihan presiden (Pilpres) sebanyak lima kali, ternyata masih banyak pemikiran 'sakit'. Menyebarkan pemikiran apatis tentang ketidakpedulian terhadap sosok pemimpin yang bakal terpilih.
Ungkapan paling sering terdengar adalah begini “Siapa pun presiden terpilih, gue tetap capek nyari duit sendiri, kerja sendiri dan usaha sendiri,”.
Beberapa setidaknya bilang begini “Gue nggak peduli siapa pun presiden yang terpilih, karena gue masih tetap bisa makan dengan keringat dan usaha gue sendiri,”
Benar, setiap masa pesta demokrasi tiba pasti masih ada golongan orang yang muncul dengan pemikiran seperti ini. Mirisnya, tidak jarang ungkapan ini keluar dari mereka yang bisa mempengaruhi (influencer) banyak orang, baik di kehidupan nyata, terutama di media sosial.
Dampaknya jelas, mereka yang mengidolakan influencer tadi paling tidak ada satu dua orang yang terpengaruh. Alhasil, mereka menyebar nada yang sama dengan orang terdekat lalu menyebar sedemikian luas hingga tak jarang pada akhirnya menambah kelompok orang tidak memilih (golput).
Namun, bukan soal golput-nya saja yang menjadi buruk, melainkan pengaruh ke ranah lebih luas. Pemikiran status quo seperti ini bisa membuat orang tidak lagi peduli dengan politik, padahal istilah ini begitu penting dan menyangkut semua hajat hidup mereka.
Meski tidak banyak, ketika tidak lagi peduli terhadap politik, paling tidak akan berkurang orang-orang yang mengawasi atau mengkritisi pemerintah. Pada akhirnya, para pemain politik menjadi lebih tenang berjalan di gelanggang kepentingan, tak lagi takut berbuat buruk maupun seburuk-buruknya.
Kembali lagi ke orang-orang penebar pemikiran 'sakit' tadi, seperti dibilang bahwa mereka datang dari kalangan influencer yang sekarang ini memiliki banyak tempat. Jika dilihat, golongan ini lebih banyak adalah orang-orang yang sudah berada di ‘posisi aman’.
Sementara, mereka penerima pesan bisa dari kalangan bawah yang hidupnya mungkin tidak sebaik penyampai pesan tadi. Jadi, sampai sini saja secara akal sehat sudah tidak masuk akal jika ditelan mentah-mentah oleh mereka yang hidupnya masih ‘bergantung’ pada kebijakan pemerintah.
1. Lantas Mengapa Pemikiran Seperti Ini Perlu Ditampar?
Dalam menjawab pertanyaan ini, tampaknya perlu untuk membahas siapa presiden dan apa gunanya buat hidup manusia di suatu negara. Terutama dalam negara yang menyebut dirinya si paling demokratis.
Presiden di Indonesia telah jelas ditegaskan pada Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 tepatnya di pasal 4 yang bunyinya sebagai berikut.
“Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar.”
Artinya Presiden sebagai jabatan adalah pemegang tampuk kekuasaan negara sekaligus kepala pemerintahan. Dalam posisi politik, Presiden menjadi pemimpin tertinggi di eksekutif.
Pada acuan yang sama, tugas dan wewenang jabatan Presiden juga dijelaskan lebih rinci di UUD 1945. Jika dibaca secara seksama, paling tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa Presiden bisa melaksanakan kehendak sesuai pemegang jabatan tersebut.
Maka jelaslah, jika boleh dianalogikan Presiden adalah ibarat kendaraan seseorang dalam jalanan kekuasaan (negara). Sementara sosok orang yang terpilih sebagai Presiden bisa disebut sebagai sopirnya, dan menteri menjadi kenek untuk membantu tugas sopir mengatur penumpang agar selalu tertib dalam membayar ongkos.
Penumpang ini adalah rakyat, dalam angkot mereka boleh berisik (baca mengkritik) karena mereka berada di mobil bermerk demokrasi. Mereka bisa menuntut sopir jika tidak mengutamakan kenyamanan dan kesejahteraan selama dalam perjalanan, bahkan mereka bisa menurunkan sopir dan menuntunnya jika sudah terlampau buruk cara bawa mobilnya.
2. Lalu Salahnya Tidak Peduli Terhadap Presiden Terpilih Apa?
Sebelumnya telah dibahas bahwa Presiden memiliki kewenangan yang luar biasa dalam satu negara. Artinya dia bisa mengeluarkan kebijakan sesuai apa yang diperlukannya jika mau.
Apabila kembali ke analogi tadi, sang sopir bisa membawa arah mobil sesuka hatinya bahkan meskipun jalan yang dilalui bukan menuju ke rumah penumpang tanpa ketahuan. Sebab, penumpang tadi tidak peduli dengan siapa sopir yang membawa mereka dan hanya sibuk main handphone semata sepanjang jalan, hingga tiba saatnya sadar mungkin sudah berada di tepi jurang.
Lalu soal kelompoknya tadi yang mempunyai pemikiran ‘sakit’ juga bisa kena ketika kebijakan pemerintah sudah menyentuh kepentingannya. Sebagai contoh, kelompok tadi merasa tetap bisa hidup dengan kerja, usaha, dan sebagainya siapa pun presiden terpilih.
Sejauh ini benar, namun ketika si Presiden yang punya kewenangan tadi mengeluarkan kebijakan yang akhirnya mengusik mata pencaharian, pekerjaan, dan sebagainya, pasti juga tetap teriak-teriak saja. Hal ini bukan tidak mungkin terjadi jika Presiden terpilihnya hanya peduli pada kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.
Contoh lain, mereka yang merasa masih tetap mencari duit dan makan sendiri meski siapa pun presidennya, ya memang benar. Tapi ketika si Presiden terpilih ini nanti seandainya mengeluarkan kebijakan tidak memperbolehkan kamu kerja, menutup semua lapangan pekerjaan karena akibat kepemimpinan yang buruk terjadi peristiwa besar yang berpengaruh ke stabilitas negara. Apa yang bisa diperbuat? Pastinya menyesali telah memilihnya.
Dapatlah dilihat bagaimana pentingnya memikirkan tentang kualitas dan kapabilitas seorang Presiden yang harus dipilih, itulah alasan penting rakyat tidak boleh tutup mata terhadap politik. Karena bagaimanapun juga sejelek-jeleknya framing yang dibuat oleh para politikus tentang politik itu, ia tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Mengapa Pikiran yang Tak Peduli tentang Siapa Presiden Terpilih ‘Sakit’?
Orang sakit terlebih ketika parah biasanya bisa membuat tak sadarkan diri. Sama halnya dengan pemikiran seperti tak peduli dengan presiden terpilih, mereka sedang tak sadarkan diri bahwa hidup mereka berkaitan dan akan selalu berjalan bersamaan dengan politik, setidaknya merasakan kebijakannya.
Bolehlah mereka yang mengatakan itu adalah orang yang sudah mapan dan hartanya tak akan goyah meski semerugikan apa pun kebijakan politik yang dibuat (biasanya ada di barisan influencer). Tapi bagaimana dengan mereka yang hanya mengidolakan, mendambakan, dan bermimpi menjadi seperti itu? Hanya jurang kesengsaraan yang ada di depannya.
Memang pada dasarnya, pendapat ini juga bagian daripada demokrasi. Itulah mengapa Aristoteles mengatakan “demokrasi akan gagal apabila kebebasan dan persamaan tidak berjalan dengan baik.”
4. Lalu Bagaimana Elemen Lain yang Menjadi Pengawas Pemerintah, Bukankah Bisa Membantu?
Elemen lain yang dimaksud adalah orang-orang yang sering meminta suara untuk ‘katanya’ mewakili suara rakyat di gedung milik negara (DPR), meskipun banyak selain mereka. Iya, kelompok ini akan sangat membantu jika tegak lurus sesuai janjinya kepada rakyat saat ‘mengemis suara'.
Namun, apa yang terlihat hari ini? Apakah mereka cukup membantu ketika banyak kebijakan yang diprotes rakyat justru mengalihkan untuk mengadu ke lembaga lain dalam hal ini Mahkamah Konstitusi (MK)? Apakah mereka mendengar rakyat ketika ada demonstrasi (hak rakyat) berjilid-jilid?
Baiklah, lagi-lagi tidak bisa dipukul rata semuanya begitu, tapi tampaknya belakang ini fungsi para wakil rakyat ini sudah berubah. Meski tidak semuanya begitu, namun dalam hukum alam yang di atas selalu mudah menindas yang dibawah.
5. Kesimpulan Pada Akhirnya
Setiap pilihan selalu ada konsekuensi, termasuk dalam memilih Presiden. Maka ketika pilihan tak sesuai harapan jangan tangisi dengan penyesalan, terima dengan ikhlas hingga tiba saatnya kembali pemilihan.
Pada akhirnya memang tidak ada pemimpin yang benar-benar bersih atau setengah malaikat. Rakyat hanya bisa berharap agar yang terpilih adalah yang terbaik dan yang terburuk.
Namun, ketika pilihan ini juga tak membuat keadaan membaik, tidak ada kata lain selain melawan atau diam mengikuti arus. Hanya satu keputusan dalam dua pilihan.
- SM
Suka beropini dan kadang-kadang jadi pengamat segala perkara.
Artikel lain dari Syahrul Martua
Rekomendasi
Opinion28 Agt 2025Seolah-olah Mereka Paham Anarkis
Opinion08 Agt 2025Pak! Bendera One Piece Bukan Barang Menakutkan
Opinion01 Agt 2025Kala Indonesia Hampir Bangkrut di Tangan Soekarno
Ragam01 Agt 20256 Cara Ampuh Bikin Pasangan Luluh Ketika Sedang Emosi
Opinion15 Jul 2025Omong Kosong Pendidikan Gratis di Negeri Seribu Janji Manis
Opinion27 Feb 2025Perempuan: Tubuhku, Pakaianku, Adabku
Movie12 Feb 20256 Film Hot China Nuansa Jadul, Cocok Temani Kesendirian
Education13 Jan 2025Menilik Mesin Biodiesel Rancangan Mahasiswa Teknik Kimia Unpam: Keunggulan dan Cara Kerjanya
Opinion02 Jan 2025Orang-orang Goblok di Jalan
Opinion30 Des 20242025 Tiba, Masih Pentingkah Organisasi Bagi Mahasiswa?
