Jurnalistika
Loading...

OPINION

Seolah-olah Mereka Paham Anarkis

Televisi sering memperlihatkan orang-orang bicara anarkis, seolah-olah mereka paham arti kata itu.

  • Aldiansyah Sikumbang

    28 Agt 2025 | 08:25 WIB

    Bagikan:

image
Ilustrasi pejabat berbicara di depan televisi mengumandangkan anarkis. (Dibuat menggunakan AI)

Layar kaca menyorot seorang pejabat berdasi rapi, berdiri dengan dagu sedikit terangkat. Ia menunjuk kamera, menyebut kata anarkis dengan nada penuh keyakinan, seakan-akan sedang mengumumkan kebenaran suci.

Baginya, anarkis identik dengan kekacauan, batu beterbangan, toko dijarah, mural protes di tembok kota. Ia bicara dengan otoritas palsu, seolah menelan kamus politik dunia dan melahirkannya kembali tanpa cela.

Padahal, dari setiap suku kata yang keluar, tercium aroma ketidaktahuan yang pekat, dan lebih dari itu, keangkuhan yang menyesakkan.

Para penguasa bahkan, dari podium ke podium, telah mengubur makna sejati kata itu. Anarkis mereka artikan sesempit mungkin, tidak lebih dari pengacau, pengganggu ketertiban, musuh negara.

Setiap suara yang menolak tunduk, setiap tubuh yang menolak membungkuk, dengan cepat dicap sebagai ancaman. Kata itu, yang mestinya sarat gagasan dan harapan, terdegradasi menjadi stigma.

Padahal, jauh sebelum kata ini dipelintir menjadi momok, Mikhail Bakunin, pemikir anarkisme modern, telah mengajarkan bahwa anarki bukanlah kekacauan. Akar katanya dari bahasa Yunani jelas, an-archos, tanpa penguasa, bukan tanpa tatanan.

Dalam kata anarkis tersemat cita-cita tentang kebebasan dan kesetaraan, tentang keteraturan yang lahir dari kesadaran kolektif, bukan dari cambuk kekuasaan.

Sudah sewajarnya, para pejabat yang kerap dengan bangga menyebut kata anarkis ditampar dengan pemahaman. Sehingga mereka tak lagi bicara anarkis seolah-seolah mereka paham arti kata tersebut.

1. Sedikit Menilik Sejarah

Gerakan rakyat Indonesia sesungguhnya memiliki jejak panjang yang kerap bersentuhan dengan semangat anarkisme, meski tak selalu menyebut dirinya demikian. Pada awal abad ke-20, misalnya, Sarekat Islam Merah yang dipimpin Semaun dan Darsono mengobarkan kesadaran kelas buruh dan tani untuk melawan ketidakadilan kolonial.

Kedua tokoh ini mengajarkan dua hal sekaligus pada rakyat, perlawanan terhadap penjajah dan menanamkan gagasan bahwa rakyat berhak mengatur nasibnya sendiri, tanpa harus tunduk pada struktur kekuasaan yang menindas.

Perlawanan itu tak berhenti di sana. Gerakan buruh dan tani yang muncul di berbagai daerah pada masa revolusi kemerdekaan juga menyiratkan semangat serupa. Di Banten, petani bangkit melawan tuan tanah dan kolonial yang merampas tanah mereka. Di Sumatera Timur, buruh perkebunan melawan sistem kerja paksa yang merendahkan martabat manusia.

Bahkan di era Orde Baru, ketika kebebasan nyaris mati, jaringan aktivis bawah tanah tetap bergerak, memperjuangkan ruang hidup yang lebih setara dan bebas dari cengkeraman negara otoriter.

Jejak sejarah ini mengingatkan bahwa anarkisme bukan barang asing bagi bumi Nusantara. Justru telah lama hadir dalam denyut perlawanan rakyat, dalam mimpi-mimpi yang sederhana agar terbebas dari ketakutan, memiliki kendali atas hidup sendiri, dan membangun tatanan yang lebih adil.

Ironisnya, sejarah ini jarang diajarkan di ruang-ruang kelas. Kita dibesarkan dalam narasi tunggal yang memuja kekuasaan dan menuduh setiap bentuk perlawanan sebagai ancaman negara.

Mungkin, inilah saatnya kita menengok kembali sejarah itu. Mengingat bahwa kemerdekaan sejati tak pernah lahir dari hadiah penguasa, melainkan dari keberanian rakyat yang menolak tunduk.

Sebab, di balik setiap label “anarkis” yang dilontarkan dengan nada menghina, tersimpan gema masa lalu: suara-suara yang menolak dilenyapkan, suara-suara yang menuntut hak paling mendasar sebagai manusia merdeka.

2. Diajarkan Oleh Pendahulu

Sejarah mencatat betapa mudahnya penguasa mengubur makna sebuah kata demi mempertahankan kursi. Narasi yang menguntungkan akan diulang, sementara yang membebaskan ditekan sedalam-dalamnya. Mereka lupa, bangsa ini justru lahir dari tindakan yang, bila mengikuti standar mereka, bisa disebut “anarkis”.

Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah pembangkangan mutlak terhadap otoritas kolonial. Sumpah Pemuda 1928 menentang tatanan mapan yang hendak mengekang. Para pemuda yang menulis, berorasi, dan mengorganisasi perlawanan kala itu tak ragu dicap “pengacau” oleh pemerintah kolonial.

Wajah-wajah yang kini dicetak di uang kertas pernah dianggap hama negara. Sejarah membuktikan bahwa yang hari ini dicela sebagai perusuh, esok bisa dikenang sebagai pahlawan.

Ki Hajar Dewantara, misalnya, menolak tunduk pada kekuasaan yang membungkam pendidikan pribumi. Soekarno, Hatta, Tan Malaka, nama-nama yang harum hari ini, pernah dicaci, dipenjara, dan dibuang karena gagasan mereka dianggap mengancam.

Mereka tidak menunggu restu untuk menata masa depan bangsanya. Mereka mengambil langkah, mempercepat waktu, demi kebebasan untuk generasi di masa depan, yang pejabat dan semua insan di Bumi Pertiwi ini sudah rasakan.

3. Anarkis Adalah Kritik Paling Jujur

Anarkisme, yang terus-menerus dinodai stigma, sejatinya bukan ajaran nihil yang mengajak orang merusak. Malainkan kritik paling jujur terhadap kekuasaan yang korup dan hierarki yang melanggengkan ketidakadilan.

Proudhon, tokoh awal yang bangga menyebut dirinya anarkis, menulis bahwa tatanan sejati justru lahir dari masyarakat itu sendiri, bukan dari segelintir penguasa yang memaksakan kehendak.

Gagasan itu kini terasa semakin relevan. Ketika kekuasaan makin rakus, ketika rakyat dipaksa tunduk pada aturan yang tak pernah mereka sepakati, anarkisme kembali memantul sebagai tawaran: dunia yang diatur oleh kerja sama sukarela, komunitas yang setara, tatanan tanpa dominasi.

Namun, kekuasaan tak pernah nyaman pada kata-kata yang memerdekakan. Mereka mencipta mitos, memelihara ketakutan, dan menebar kebohongan bahwa anarki adalah huru-hara.

Padahal, ketertiban yang dipertahankan dengan pentungan polisi dan gas air mata bukan ketertiban, melainkan teror yang dilembagakan. Negara, sepanjang sejarahnya, adalah pelaku kekerasan terbesar dengan menciptakan perang, genosida, perampasan tanah, penyiksaan. Tetapi, dengan lihai, mereka menunjuk ke arah lain sambil menuduh para anarkis sebagai biang onar.

4. Tidak Ada Kekerasan, yang Ada Perlawanan

Kenyataannya, anarkisme tidak mengajarkan kekerasan, meski ia sadar bahwa melawan kekerasan struktural kadang menuntut perlawanan. Bakunin berbicara tentang kebebasan manusia yang lahir dari kesadaran kolektif, bukan dari dominasi.

Di era modern, Noam Chomsky mengingatkan bahwa tugas moral setiap manusia adalah menantang struktur kekuasaan yang tak bisa membenarkan keberadaannya.

Inilah mengapa kata anarkis terus-menerus dipelintir, karena di dalamnya tersimpan ide paling berbahaya sekaligus paling membebaskan, bahwa manusia bisa mengatur hidupnya sendiri tanpa tunduk pada tirani.

Setiap kali seorang pejabat mengutuk “aksi anarkis” di hadapan kamera, pertanyaan yang sepatutnya muncul adalah, apakah mereka sungguh mengerti, atau sekadar mengulang mantra propaganda? Yang pasti, mereka tak pernah mau mengakui bahwa anarkisme bukan tentang merusak dunia, melainkan membangun ulang dunia yang lebih adil.

Kata itu harus direbut kembali dari tangan yang mengkhianatinya. Harus dibersihkan dari lumpur stigma yang menjeratnya.

Sebab, selama kebohongan itu terus dipelihara, masyarakat akan selalu dicekoki ilusi bahwa kebebasan adalah ancaman, bahwa ketertiban hanya bisa lahir dari ketakutan.

Pada suatu hari, ketika kata itu kembali bermakna, mungkin barulah kita bisa bicara tentang kebebasan sejati. Kebebasan yang tak berhenti di pagar istana, tak dibatasi oleh keangkuhan penguasa.

Kebebasan yang lahir dari keberanian untuk bermimpi bahwa dunia bisa diatur oleh mereka yang menghuninya, bukan oleh segelintir orang yang merasa berhak atas segalanya.

Dan di hari itu, mungkin, kata “anarkis” tak lagi terdengar seperti kutukan, melainkan doa yang sederhana: menjadi manusia yang sepenuhnya merdeka.

__
Referensi:

  • www.britannica.com
  • theanarchistlibrary.org

"Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis yang diunggah ke platform terbuka Jurnalistika Community. Tulisan Aldiansyah Sikumbang tidak mewakili pandangan dari pihak Jurnalistika Community."


  • Aldiansyah Sikumbang

    Masih belajar, terus belajar, dan tak henti belajar.

Jurnalistika Community adalah platform terbuka untuk menulis. Semua konten sepenuhnya milik dan tanggung jawab kreator. Pelajari Selengkapnya.

Artikel lain dari Aldiansyah

    Kamu suka artikel dari penulis ini? Lihat lagi yang lainnya dari Aldiansyah Sikumbang

    Rekomendasi