Jurnalistika
Loading...

FOOD

4 Makanan Khas Minangkabau yang Biasa Disajikan Saat Hari Raya Idul Fitri Serta Filosofinya

Bingung menu Idul Fitri? Simak makanan khas Minangkabau yang cocok untuk disajikan ini dan sering dihidangkan ketika momen kemenangan ini tiba.

  • Tiara Salsabila Putri

    09 Jan 2024 | 10:05 WIB

    Bagikan:

image
Hari Raya Idul Fitri (Pixabay/Mohamed_Hassan)

Masakan Minangkabau bukanlah sesuatu yang  asing bagi masyarakat Indonesia, karena sering dijumpai di kehidupan sehari-hari atau momen tertentu, seperti Hari Raya Idul Fitri.

Hari Raya Idul Fitri menjadi momen yang penuh kebahagiaan, permintaan maaf, dan rasa syukur. Salah satu kegiatan yang tak terpisahkan adalah menyajikan makanan sebagai wujud dari keberkahan dan kerukunan keluarga.  

Oleh sebab itu, setiap Hari Raya Idul Fitri selalu dilengkapi dengan berbagai macam hidangan makanan untuk menjamu teman, keluarga, saudara, dan orang lain yang berkunjung ke rumah.

Dalam hal ini, masakan Minangkabau memiliki tempat istimewa dengan cita rasa  akan rempah-rempahnya. Berikut adalah lima masakan khas Minangkabau yang sering disajikan saat Hari Raya Idul Fitri beserta filosofinya.

1. Rendang

image
Rendang (Unsplash/Prananta Haroun)

Rendang merupakan masakan Minangkabau yang sudah dikenal di seluruh dunia. Orang Minangkabau identik dengan pandai membuat rendang karena rendang termasuk masakan awet jika dijadikan bekal sehingga cocok bagi mereka yang suka bepergian.

Rendang terbuat dari bahan dasar daging sapi atau  kerbau. Makanan ini dimasak dengan santan dan bumbu, seperti lengkuas, jahe, kemiri, cabe giling, bawang merah, bawang putih, serai, daun kunyit, salam, dan penyedap rasa.

Rendang yang dimasak dalam waktu yang lama mencerminkan ketekunan dan kesabaran, sementara kekayaan rempah-rempah yang digunakan melambangkan kehidupan yang penuh warna. Oleh sebab itu, rendang menjadi makanan khas Minangkabau yang wajib disajikan saat Hari Raya Idul Fitri.

2. Gulai

image
Gulai (Freepik/Jcoms)

Gulai merupakan makanan berkuah yang memiliki rasa gurih dan pedas. Masakan ini memiliki filosofi keanekaragaman suku Minangkabau yang sangat menghormati alam. Hal ini dikarenakan, awalnya bahan yang digunakan untuk membuat gulai sesuai dengan musimnya.

Gulai yang biasa ditemui, yaitu gulai cubadak (nangka muda), gulai rebuang (rebung), dan gulai ayam. Gulai dengan kuah kental dan bumbu rempah yang meresap, menyimbolkan kerukunan dan kebersamaan. Seperti keberagaman bahan dalam gulai, begitu juga kehidupan yang penuh dengan perbedaan namun tetap menyatu dalam satu kesatuan.

3. Ketupek

image
Ketupek (ketupat) (Unsplash/Farhan Azam)

Ketupek (ketupat) terbuat dari janur kuning, beras atau ketan, dan santan. Saat Hari Raya Idul Fitri, masakan ini biasa didampingi dengan gulai dan juga kerupuk merah.

Ketupek sebagai makanan tradisional yang berasal dari budaya Minangkabau memiliki filosofi tersendiri. Pembuatan ketupek mulai dari mempersiapkan ketan hingga melipat daun pisang. Setiap langkah ini mengajarkan tentang kesungguhan dan kehati-hatian dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kata ketupek memiliki arti sebagai sesuatu yang tertutup. Seolah-olah ketupek adalah simbol keteguhan dan kekuatan, mengajarkan tentang pentingnya menjaga hati dan pikiran agar tetap terlindungi dari pengaruh negatif.

4. Lamang

image
Lamang Tapai (Pixabay/Husnil2409)

Lamang merupakan makanan tradisional Minangkabau yang muncul semenjak masuknya Islam di sana. Makanan ini terbuat dari beras puluik (ketan) dengan talang (bambu) sebagai wadahnya dan tradisi membuatnya disebut dengan malamang.

Tradisi malamang itu biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadhan, lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha), peringatan Maulid Nabi, baralek (pesta pernikahan), perayaan hari kematian, dan lain sebagainya sehingga lamang ini memiliki banyak jenis.

Dahulu setiap keluarga akan membuat lamang di masing-masing rumah dengan tujuan untuk diberikan kepada ipar dan besan masing-masing. Pembuatan lamang ini memiliki filosofi dengan artian untuk meningkatkan tali silaturahmi antara ipar dan besan dalam sebuah keluarga.

Selain itu, proses memasak lamang yang membutuhkan kesabaran mencerminkan keharmonisan dalam menjalani kehidupan. Akan hal itu, membuat lamang sering ditemui saat menjelang bulan Ramadhan bahkan tidak jarang disajikan juga saat Hari Raya Idul Fitri.

Hari Raya Idul Fitri bukan hanya tentang permintaan maaf, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan melalui makanan yang disajikan. Makanan khas Minangkabau tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai luhur dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Mari kita nikmati kelezatan dan pesan yang terkandung dalam setiap suapannya, sambil merayakan keberagaman yang memperkaya perjalanan hidup kita. Lamak bana (enak sekali)! 


  • Tiara Salsabila Putri

    Mahasiswa UIN Jakarta

Jurnalistika Community adalah platform terbuka untuk menulis. Semua konten sepenuhnya milik dan tanggung jawab kreator. Pelajari Selengkapnya.

Artikel lain dari Tiara Salsabila

    Kamu suka artikel dari penulis ini? Lihat lagi yang lainnya dari Tiara Salsabila Putri

    Rekomendasi