Jurnalistika
Loading...

Program MBG SDN Meruya Selatan Dihentikan Usai 20 Siswa Diduga Keracunan

  • Angga Budi

    03 Nov 2025 | 15:50 WIB

    Bagikan:

image

SDN Meruya Selatan 01. (Dok. Istimewa)

jurnalistika.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Meruya Selatan 01, Kembangan, Jakarta Barat, terpaksa dihentikan sementara selama 10 hari.

Keputusan itu diambil usai 20 siswa SDN Meruya Selatan dilarikan ke rumah sakit setelah menyantap menu MBG yang dibagikan pada Rabu, 29 Oktober 2025 lalu.

Wakil Kepala SDN Meruya Selatan 01, Nur Syamsiyah, menjelaskan penghentian layanan makanan gratis ini sesuai arahan dari pihak terkait demi keamanan siswa.

Meski begitu, ia menegaskan belum bisa memastikan penyebab pasti jatuh sakitnya puluhan murid tersebut.

“Jadi untuk sementara itu (MBG) memang dihentikan kurang lebih 10 hari,” kata Nur Syamsiyah saat ditemui di Jakarta, Senin.

Masih Proses Penyelidikan

Ia menjelaskan tim dari Badan Gizi Nasional (BGN) masih melakukan penyelidikan terhadap dugaan keracunan tersebut.

“Dari BGN (Badan Gizi Nasional), masih dalam proses penyelidikan. Jadi sampai saat ini kita juga tidak bisa memvonis itu keracunan atau tidak, karena memang hasil belum kami terima,” ujar Nur.

Sebelumnya, Kepala SDN Meruya Selatan 01, Siti Sofyatun, membenarkan adanya indikasi keracunan setelah siswa mengonsumsi menu MBG yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Meruya Selatan.

“Hari itu Rabu, hari ketiga kami dapat MBG, ada 20 siswa (yang keracunan),” kata Siti saat dikonfirmasi via telepon di Jakarta, Sabtu.

Baca juga: Wilayah Jabodetabek Terus Diguyur Hujan, Ternyata Ini Penyebabnya

Gejala yang dialami para siswa berupa mual dan pusing sesaat setelah menyantap hidangan yang berisi mie, telur kecap, puding, dan beberapa lauk lainnya.

Tujuh siswa bahkan harus dibawa ke RSUD Kembangan lantaran Puskesmas setempat sedang penuh.

“Tujuh anak dibawa ke RSUD, karena waktu itu Puskemas Kembangan sedang penuh. Jadi akhirnya kami disarankan ke RSUD Kembangan. Yang di sekolah, 13 anak itu ditangani oleh dokter. Artinya enggak terlalu parah,” ujar Siti.

Diduga Mie dan Puding Jadi Penyebab

Meski hasil laboratorium belum keluar, Siti menduga penyebabnya ada pada mie atau puding yang disajikan. Ia menemukan ada puding yang berbau sangit, meskipun tidak seluruhnya dalam kondisi demikian.

“Sampai saat ini sih hasil lab belum keluar. Tapi dugaannya, kalau enggak mie, ya puding. Pudingnya itu agak bau sangit. Ada sebagian sih, jadi enggak semua. Jadi ketika saya cium, saya dikasih sampel dua itu ya, yang satu wangi, yang satu agak bau sangit. Anak-anak udah diingatkan enggak usah dimakan, tapi ya namanya anak-anak ya,” kata Siti.

Beruntung, seluruh siswa yang sakit sudah kembali pulih dan bersekolah seperti biasa keesokan harinya. Pihak sekolah juga telah berkomunikasi dengan orang tua murid terkait kejadian ini.

Baca juga: Prabowo Tunjuk Zulhas Ketuai Tim Koordinasi Program MBG

“Sudah aman sekali. Bahkan habis kejadian besoknya mereka langsung masuk semua. Jadi saya sudah konfirmasi, sudah panggil mereka (orang tua siswa), ngobrol sama anak-anak juga, sama orang tuanya juga. Aman sih, enggak ada masalah apa-apa di sekolah,” ujar Siti.

Program MBG merupakan bagian dari kebijakan layanan makanan sehat yang digagas pemerintah untuk mendukung gizi anak sekolah.

Kasus ini kembali menjadi evaluasi bagi pelaksana kebijakan agar distribusi makanan ke sekolah dapat benar-benar terjamin mutunya.

Ikuti dan baca berita Jurnalistika lainnya di Google News, klik di sini.

MBG

program mbg


Populer

Rangkuman Terkini Soal Banjir Besar di Sumut, Sumbar, dan Aceh
Tentang Kami
Karir
Kebijakan Privasi
Pedoman Media Siber
Kontak Kami