jurnalistika.id – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai jumlah korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan perdebatan publik.
Dalam pidatonya di acara penutupan Musyawarah Nasional Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang keenam, ia mengakui adanya kasus keracunan, namun menyebut angka tersebut sangat kecil bila dibandingkan dengan skala program.
Baca juga: BGN Stop 56 SPPG Usai Marak Kasus Keracunan MBG
Klaim itu menjadi sorotan lantaran data lapangan justru menunjukkan jumlah korban yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Tiga puluh juta anak dan ibu hamil tiap hari menerima makanan, bahwa ada kekurangan iya, ada keracunan makan iya. Kami hitung dari semua makanan yang keluar penyimpangan, kekurangan, atau kesalahan, itu adalah 0,0017 persen,” ujar Prabowo di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, pada Senin, 29 September 2025.
Menghitung Klaim 0,0017 persen
Jika pernyataan tersebut diuji dengan perhitungan matematis, maka hasilnya menunjukkan hal yang berbeda.
Dengan menggunakan rumus Persentase = (Jumlah Kasus ÷ Total Penerima) × 100%, angka 0,0017 persen dari total 30 juta penerima sama dengan 510 orang.
Artinya, apabila klaim Presiden tepat, jumlah korban seharusnya hanya berkisar ratusan, bukan ribuan.
Fakta di Lapangan
Fakta di lapangan ternyata jauh lebih tinggi. Data resmi Badan Gizi Nasional (BGN) per 22 September 2025 mencatat 4.711 kasus keracunan akibat menu MBG.
Anga tersebut juga telah diungkap oleh Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Senin (22/9/2025).
“Total catatan kami ada sekitar 4.711 porsi makan yang menimbulkan gangguan kesehatan,” katanya.
Baca juga: Lewat MBG, Prabowo Yakin 1,5 Juta Lapangan Kerja Baru Terbuka di Januari 2026
Sementara itu, menurut pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) jumlah tersebut justru terus meningkap. JPPI melaporkan total korban mencapai 8.649 anak per 27 September 2025, atau bertambah 3.289 kasus hanya dalam dua pekan terakhir.
Apabila jumlah 8.649 korban ini yang digunakan dalam perhitungan, maka hasilnya mendekati 0,029 persen, atau sekitar 57 kali lipat lebih besar dari klaim Presiden.
Jumlah Korban Tidak Bisa Disepelekan
Meski angka tersebut masih berada di bawah 0,1 persen dari total penerima, secara riil jumlah korban ribuan anak tidak bisa dianggap sepele. Program yang seharusnya meningkatkan gizi justru memunculkan ancaman kesehatan serius.
Pemerintah sendiri telah merespons dengan menggelar rapat koordinasi lintas kementerian pada 28 September 2025. Dari rapat itu, disepakati sejumlah langkah perbaikan.
Langkah yang diambil antara lain penutupan satuan pemenuhan gizi bermasalah, peningkatan disiplin juru masak, sterilisasi alat masak, hingga kewajiban sertifikat laik higienis dan sanitasi. Langkah tersebut diambil sebagai antisipasi agar kasus serupa tidak terus berulang.
Prabowo tetap menekankan bahwa program MBG tidak boleh berhenti. Ia menargetkan sebanyak 82,9 juta penerima manfaat akan mendapat jatah pada 2025, dengan tambahan 50 juta penerima baru.
“Ada kekurangan ada, tapi manfaatnya sangat-sangat besar,” katanya.
Perbedaan Klaim dan Realita
Pernyataan Prabowo bahwa kasus keracunan hanya 0,0017 persen bisa jadi didasarkan pada asumsi jumlah korban di tahap awal, bukan angka terbaru yang terus meningkat. Namun dengan data terkini, klaim itu tidak lagi relevan.
Kendati persentase 0,029 persen terlihat kecil jika dibandingkan total 30 juta penerima, jumlah 8.649 anak yang keracunan tetaplah angka yang signifikan dalam konteks kesehatan publik.
Apalagi program ini ditujukan untuk memperbaiki gizi, bukan menimbulkan gangguan kesehatan.
Ikuti dan baca berita Jurnalistika lainnya di Google News, klik di sini.

