jurnalistika.id – BMKG memberikan penjelasan soal kabar meteor jatuh yang menghebohkan warga Cirebon pada Minggu (5/10/2025) malam.
Fenomena berupa bola api terang disertai suara dentuman keras itu viral di media sosial setelah sejumlah warga di wilayah timur Cirebon mengaku melihatnya melintas cepat di langit.
Kepala Tim Kerja Prakiraan, Data, dan Informasi BMKG Kertajati, Muhammad Syifaul Fuad, menjelaskan bahwa pihaknya masih mengumpulkan data awal untuk memastikan sumber dari dentuman tersebut.
Ia mengatakan, dari sisi meteorologi, suara keras seperti itu bisa disebabkan oleh beberapa faktor alam.
“Biasanya suara ledakan atau getaran bisa muncul dari awan konvektif akibat sambaran petir. Berdasarkan citra satelit, tidak ada indikasi awan konvektif di sekitar wilayah Cirebon saat kejadian,” ujar Fuad, dikutip dari detik.com.
Baca juga: Wanita 27 Tahun di Tangerang Tewas Dibunuh Kenalannya di Medsos
Menurut Fuad, kondisi cuaca di wilayah Cirebon dan sekitarnya saat peristiwa itu terjadi dinyatakan cerah berawan, tanpa adanya aktivitas cuaca ekstrem. Hasil pemantauan BMKG juga tidak menunjukkan adanya getaran signifikan di wilayah tersebut.
“Hingga kini belum tercatat adanya fenomena meteorologis yang signifikan di wilayah tersebut,” lanjutnya.
Bukan Kewenangan BMKG
Fuad menambahkan bahwa fenomena seperti meteor atau benda langit bukan bagian dari kewenangan BMKG.
“Terkait fenomena meteor atau benda antariksa merupakan kewenangan lembaga yang membidanginya seperti BRIN,” ujarnya.
Meski begitu, BMKG terus memantau perkembangan informasi dari berbagai sumber dan laporan warga untuk memastikan kebenaran peristiwa tersebut.
Baca juga: Trotoar Rp7 Miliar di Tangsel Diprotes, Pedagang Merugi hingga 40%
Berdasarkan laporan masyarakat, fenomena itu terjadi sekitar pukul 19.00 WI. Terlihat jelas di beberapa kecamatan di Cirebon bagian timur, terutama kawasan Lemahabang.
Beberapa warga mengaku melihat bola api melintas cepat sebelum menghilang di kejauhan, lalu mendengar suara dentuman keras yang sempat membuat panik.
Hingga kini, fenomena itu masih dalam tahap penyelidikan lintas lembaga.
Ikuti dan baca berita Jurnalistika lainnya di Google News, klik di sini.

