jurnalistika.id – Bab terbaru One Piece 1159 akhirnya menghadirkan momen yang selama ini hanya menjadi tanda tanya besar di benak para penggemar.
Eiichiro Oda membuka lembaran penting dalam sejarah dunia ciptaannya lewat Chapter 1159. Bagian ini memperlihatkan masa muda Monkey D. Dragon, sosok yang kelak dikenal sebagai pemimpin Pasukan Revolusioner sekaligus ayah dari Luffy.
Tragedi di Lembah Dewa: Shakky Jadi Korban Penculikan
Kisah dimulai dengan tragedi besar di Lembah Dewa. Shakuyaku alias Shakky, yang selama ini dikenal sebagai mantan bajak laut sekaligus figur penting dalam lingkaran besar cerita, diceritakan diculik.
Dalang di balik peristiwa ini adalah Ouchoku, salah satu mantan anggota bajak laut Rocks yang memilih berkhianat.
Baca juga: 5 Film tantang Revolusi Rakyat dan Perlawanan, Cocok Ditonton di Musim Demo
Aksi penculikan tersebut sontak menimbulkan kekacauan lokal, hingga berdampak luas serta mengganggu stabilitas ekonomi dunia. Reaksi para tokoh pun memperlihatkan betapa seriusnya peristiwa ini.
Roger digambarkan marah besar, Rayleigh terlihat gelisah, sementara Gloriosa menitikkan air mata. Eksperesi itu merupakan potret emosional yang menegaskan posisi penting Shakky dalam sejarah.
Munculnya Dragon Muda dalam Balutan Seragam Marine
Puncak kejutan dalam bab ini adalah kemunculan Dragon muda. Untuk pertama kalinya, Oda memperlihatkan sang calon pemimpin Revolusi di masa lalu.
Bukan sebagai pemberontak, melainkan sebagai anggota Marine. Panel khusus menunjukkan Dragon dalam balutan seragam resmi, menandai awal kariernya di tubuh angkatan laut.
Namun, ada hal menarik dari penggambaran ini. Berbeda dengan kebanyakan Marine yang tunduk pada aturan tanpa kompromi, Dragon muda digambarkan enggan menghabisi musuh.
Sikap ini seolah menjadi isyarat awal dari perlawanan ideologi yang kelak membawanya keluar dari barisan Marine untuk menempuh jalan revolusi.
Pertemuan yang Mengubah Jalan Hidup Dragon
Di tengah hiruk-pikuk tragedi Lembah Dewa, Dragon bertemu dengan seorang wanita berambut merah yang terluka parah.
Wanita tersebut memohon agar Dragon melindungi anak-anaknya dari kekejaman yang terjadi. Adegan ini tidak hanya menyentuh, tapi juga menjadi titik balik bagi Dragon.
Baca juga: Review Parasite (2019): Perlawanan Kelas Bawah atas Keserakahan Kapitalis
Momen tersebut mengukir tekad dalam dirinya untuk berpihak pada kaum tertindas. Dari sini bisa dibaca bahwa keputusannya membangun gerakan Revolusi lebih dari sebatas pemberontakan ideologis.
Dragon membawa pemikiran yang berakar dari pengalaman pribadi menyaksikan penderitaan yang ditimbulkan oleh Tenryuubito dan lemahnya sikap Marine yang tunduk pada Pemerintah Dunia.
Akar Kebencian terhadap Pemerintah Dunia
Keterlibatan Dragon dalam tragedi ini membuat Chapter 1159 terasa monumental. Ia bukan hanya saksi sejarah, melainkan bagian aktif yang menolak ikut dalam praktik kekejaman rezim.
Penolakannya untuk mengikuti jejak Marine yang buta aturan menjadi fondasi kebenciannya terhadap Pemerintah Dunia.
Inilah titik awal dari seorang pemimpin yang kelak mengguncang dunia. Dragon, yang selama ini digambarkan sebagai figur misterius, akhirnya diperlihatkan dengan sisi manusiawinya, dengan luka, pilihan sulit, dan tekad yang lahir dari penderitaan orang lain.
Setelah melihat masa muda Dragon di bab ini, Oda seakan memperluas cakrawala dunia One Piece.
Para penggemar tentu saja melihat bab ini sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan panjang manga One Piece.
Dragon, yang selama ini lebih sering muncul sebagai bayangan revolusioner misterius, akhirnya mendapat panggung utuh dalam kisah masa lalunya, momen yang akan dikenang dalam sejarah panjang dunia ciptaan Oda.
Ikuti dan baca berita Jurnalistika lainnya di Google News, klik di sini.

